Berita

john kerry/net

Dunia

Menlu AS Kunjungi Baghdad, Tanda Lengsernya PM Irak?

SENIN, 23 JUNI 2014 | 16:33 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Menindaklanjuti konflik yang terjadi di Irak, Amerika Serikat (AS) mengirim Menteri Luar Negeri John Kerry ke Baghdad (Senin, 23/6).

Kedatangan Kerry itu dilakukan untuk menekan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki agar dapat membentuk pemerintahan yang lebih inklusif dalam menanggapi pemberontakan kelompok militan Sunni yang tergabung dalam Islamic State of Iraq in the Levant (ISIL) di wilayah utara dan barat Irak.

Dalam kunjungannya tersebut, menurut keterangan dari juru bicara Kementerian Luar Negeri Jen Psaki, Kerry juga akan membahas soal tindakan yang dilakukan AS untuk membantu Irak dalam mengadapi konflik tersebut. Kerry akan mendesak para pemimpin Irak agar dapat segera bergerak maju membentuk pemerintahan yang dapat mewakili seluruh kepentingan rakyat.


Sejak menarik diri pada 2011 lalu, AS kerap menggelontorkan bantuan militer untuk membantu Irak melawan konflik ataupun kekerasan yang terjadi dari kelompok-kelompok ekstrimis.

Dalam konflik yang terjadi baru-baru ini, AS juga telah mengirimkan hingga 300 pasukan khusus sebagai penasihat. Pasukan tersebut bertugas menahan serangan udara ataupun darat.

Datangnya Kerry ke Irak sekaligus meredam kekhawatiran AS bahwa apabila kepemimpinan Maliki semakin memburuk, maka gelombang pemberontakan dapat menjadi lebih besar.

Pada Minggu (22/6) Kerry menyebut bahwa AS tidak akan menentukan siapa yang harus memimpin Irak, namun ia mencatat adanya ketidakpuasan di antara orang-orang Kurdi, Sunni dan Syiah atas kepemimpinan Maliki.

Karena itu, AS ingin memastikan bahwa pemimpin Irak harusnya orang yang dapat mewakili semua golongan tersebut.
 
Warga Irak sendiri baru membentuk pemerintahan baru setelah pemilu legislatif yang digelar April lalu.

Pejabat-pejabat AS sendiri telah menyampaikan keterbukannya bila Maliki lengser dari kursi Perdana Menteri. Hal itu telah disampaikan dalam bahasa diplomatik kepada para pemimpin Irak.

Hal itu muncul dalam pertemuan terakhir Maliki dengan pejabat-pejabat AS. Menurut sumber yang dikutip Reuters, diplomat-diplomat AS telah memberitahu Maliki bahwa ia harus bisa rela melepaskan jabatannya bila tidak berhasil mengumpulkan suara mayoritas di parlemen pada masa jabatannya di periode ketiga. [mel]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

UPDATE

Pernyataan Eggi Sebut Akhlak Jokowi Baik jadi Bulan-bulanan Warganet

Selasa, 20 Januari 2026 | 01:40

Senyum Walikota Madiun

Selasa, 20 Januari 2026 | 01:19

Rapim Kemhan-TNI 2026 Tekankan Sishankamrata sebagai Kekuatan

Selasa, 20 Januari 2026 | 00:55

Legislator PKS Dorong Penyaluran KUR Pekerja Migran Tepat Waktu

Selasa, 20 Januari 2026 | 00:35

Digiring ke Gedung KPK, Walikota Madiun Malah Minta Didoakan

Selasa, 20 Januari 2026 | 00:20

Bencana Menerjang, BUMN Datang

Senin, 19 Januari 2026 | 23:55

Polisi Bongkar Clandestine Lab Tembakau Sintetis Senilai Rp2 Miliar

Senin, 19 Januari 2026 | 23:37

Mantan Jubir KPK Ali Fikri Raih Gelar Doktor Hukum Unair

Senin, 19 Januari 2026 | 23:11

Napi Bebas Pakai Gawai di Lapas Bukan Kelalaian Biasa

Senin, 19 Januari 2026 | 23:02

Walikota Madiun Maidi Dkk Tiba di Gedung KPK, Sebagian Lewat Belakang

Senin, 19 Januari 2026 | 22:46

Selengkapnya