Berita

megawati soekarnoputri/net

Andi Arief: Megawati Jadi Masalah Demokrasi Indonesia

SENIN, 09 JUNI 2014 | 12:16 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Masyarakat diminta untuk bersiap-siap. Karena begitu Joko Widodo ternyata kalah dalam pemilihan presiden bulan depan, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri akan memainkan jurus lama, yaitu menyalahkan pihak lain.

Menebar namun memakai, adalah istilah yang digunakan mantan ketua Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) Andi Arief untuk menggambarkan metode politik Mega.

Kritik keras Andi Arief untuk Mega ini disampaikannya dalam pesan yang diterima redaksi beberapa saat lalu (Senin, 9/6). Andi merinci rekam jejak Mega dalam pemilihan presiden lima dan sepuluh tahun lalu.


Tahun 2004, kata Staf Khusus Presiden ini, Megawati tertangkap basah merusak reformasi TNI/Polri dan menyeret-nyeret agama dalam politik sampai taraf yang membahayakan pluralisme.

Sementara di tahun 2009, Megawati membuat politik jadi penuh prasangka dengan mengatakan bahwa IT dan DPT sebagai sumber kecurangan pemilu. Padahal, sambung dia, IT dan DPT tak mungkin bisa menjadi alat kecurangan.

"Jika saat ini para pendukungnya meneriakkan soal pluralisme, HAM dan netralitas intelijen, harus benar-benar diterima dan dipelajari dengan kritis. Karena teori menebar namun memakai adalah khas Megawati dan inner circle-nya selama ini," ujar Andi Arief.

"Sejak 1996, saya sudah menyatakan bahwa Megawati adalah bagian dari problem demokrasi kita," sambungnya.

Andi Arief juga menceritaka bagaimana Megawati menolak bergabung dengan elemen sipil untuk memperkuat demokrasi.

"Setelah 27 Juli 1996, Mudrik Sangidu tokoh cerdik pandai PPP mendatangi Megawati agar bersatu padu. Tetapi Megawati menampik ajakan itu. Walau demikian Mudrik tetap menggunakan slogan Mega-Bintang," cerita Andi Arief.

Kata dia lagi, awalnya Joko Widodo yang digunakan Megawati dalam pemilihan presiden tahun in imendapatkan dukungan dari kelas menengah yang marah dan kecewa. Tetapi belakangan, orang-orang yang mendukung Jokowi itu berbondong-bondong meninggalkannya.

"Inilah konsekuensi kesadaran palsu. Masyarakat bersiap, Megawati akan menyalahkan dan mencari-cari kesalahan pihak lain," demikian Andi Arief. [dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

Mengapa 2026 adalah Momentum Transformasi, Bukan Resesi?

Senin, 13 April 2026 | 00:01

Armada Pertamina Terus Distribusikan Energi di Tengah Tantangan Global

Minggu, 12 April 2026 | 23:40

KSAL Sidak Kesiapan Tempur Markas Petarung Marinir

Minggu, 12 April 2026 | 23:11

OTT: Prestasi Penegakan Hukum atau Alarm Kegagalan Sistem

Minggu, 12 April 2026 | 22:46

Modus Baru Pemerasan Bupati Tulungagung: Dikunci Sejak Awal

Minggu, 12 April 2026 | 22:22

Ketum Perbakin Jakarta: Brimob X-Treme 2026 Ajang Pembibitan Atlet Nasional

Minggu, 12 April 2026 | 22:11

Isu Kudeta Prabowo Dinilai Bagian Konsolidasi Politik

Minggu, 12 April 2026 | 21:47

KPK Duga Adik Bupati Tulungagung Tahu Praktik Pemerasan

Minggu, 12 April 2026 | 21:28

Brimob X-Treme 2026: Dari Depok untuk Panggung Menembak Dunia

Minggu, 12 April 2026 | 21:08

Polisi London Tangkap 523 Demonstran Pro-Palestina

Minggu, 12 April 2026 | 20:06

Selengkapnya