Berita

Politik

Kenapa Megawati Dulu Tidak Selesaikan Kasus Penculikan Aktivis?

KAMIS, 05 JUNI 2014 | 17:15 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Mantan aktivis mahasiswa yang pernah menjadi korban penculikan 1998, Pius Lustrilanang, meminta agar isu penghilangan orang secara paksa tidak dijadikan sebagai komoditas politik jelang Pilpres 2014.

Pius merasa terhina karena isu tersebut kini digembar-gemborkan oleh pasangan capres-cawapres yang diusung PDIP, Jokowi-JK dan tim suksesnya.

"Berhentilah menggunakan isu penghilangan orang secara paksa sebagai komoditas politik. Sebagai korban, terus terang saya merasa terhina," kata Pius dalam laman facebooknya (Kamis, 5/6).


Pius mengatakan sejak tahun 1998 dirinya mengikuti terus perjuangan keluarga korban dalam mencari keadilan. Dia menjelaskan Komnas HAM sudah bekerja mencari informasi sejak tahun 1999 namun tidak ada langkah yang dilakukan Presiden maupun DPR untuk menindaklanjuti rekomendasi Komnas HAM. Presiden juga tidak melakukan apa-apa atas rekomendasi Pansus DPR agar membentuk Pengadilan HAM Adhoc.

"Ketika hari ini isu ini dimunculkan lagi oleh kubu salah satu capres untuk mendiskreditkan capres yang lain, saya betul-betul kecewa," kata pria asal Palembang ini.

Menurut politisi Partai Gerindra ini, kesempatan terbaik untuk menuntaskan kasus orang hilang adalah saat Megawati Soekarnoputri berkuasa. Undang-undang tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia sudah disahkan sejak tahun 2000 tapi tidak ada upaya apapun yang dilakukan oleh Megawati untuk menyelesaikan kasus tersebut.

"Ketika Megawati menggandeng Prabowo sebagai cawapres, isu pelanggaran HAM ini juga tidak dipakai oleh kubu lawan untuk menyerang Megawati. Lalu mengapa isu ini sekarang digunakan lagi oleh kubu capres dukungan Megawati? Jadi, berhentilah menggunakan isu pelanggaran HAM sebagai isu politik pilpres," demikian Pius.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

Mengapa 2026 adalah Momentum Transformasi, Bukan Resesi?

Senin, 13 April 2026 | 00:01

Armada Pertamina Terus Distribusikan Energi di Tengah Tantangan Global

Minggu, 12 April 2026 | 23:40

KSAL Sidak Kesiapan Tempur Markas Petarung Marinir

Minggu, 12 April 2026 | 23:11

OTT: Prestasi Penegakan Hukum atau Alarm Kegagalan Sistem

Minggu, 12 April 2026 | 22:46

Modus Baru Pemerasan Bupati Tulungagung: Dikunci Sejak Awal

Minggu, 12 April 2026 | 22:22

Ketum Perbakin Jakarta: Brimob X-Treme 2026 Ajang Pembibitan Atlet Nasional

Minggu, 12 April 2026 | 22:11

Isu Kudeta Prabowo Dinilai Bagian Konsolidasi Politik

Minggu, 12 April 2026 | 21:47

KPK Duga Adik Bupati Tulungagung Tahu Praktik Pemerasan

Minggu, 12 April 2026 | 21:28

Brimob X-Treme 2026: Dari Depok untuk Panggung Menembak Dunia

Minggu, 12 April 2026 | 21:08

Polisi London Tangkap 523 Demonstran Pro-Palestina

Minggu, 12 April 2026 | 20:06

Selengkapnya