Berita

Soal Korupsi TransJakarta, Jokowi Tak Bisa Ngelak

SELASA, 03 JUNI 2014 | 17:44 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Aksi menuntut Jokowi bertanggungjawab atas korupsi pengadaan bus TransJakarta makin marak dilakukan banyak kalangan. Peneliti Pusat Kajian Hukum dan HAM Nusantara (Puskamra), Hilal Ramadhan, menilai setidaknya ada dua penyebab kenapa aksi tersebut makin gencar.

"Pertama, kegagalan Jokowi menepis kecurigaan publik tentang keterlibatan dirinya. Penjelasan Jokowi lebih bersifat normatif. Padahal semua orang tahu, kebijakan dan tugas pengendalian internal itu di tangan Jokowi. Lalu, kenapa masih terjadi korupsi? Ini pertanyaan publik yang harus dijawab," ujar Hilal dalam keterangan pers yang diterima redaksi (Selasa, 23/5).

Penyebab lainnya, kata dia, faktor politik terkait Pilpres 2014 di mana Jokowi menjadi salah satu calon presiden. Namun begitu, ia mengingatkan, pihak Jokowi tak serta merta menuding aksi itu digerakkan oleh lawan politiknya. Sebab, kasus Transjakarta memang kebetulan beriringan dengan momentum Pilpres.


Jokowi, katanya, perlu segera meyakinkan publik perihal keterlibatan dirinya dalam kasus korupsi pengadaan bus Transjakarta. Pasalnya, saat ini publik Jakarta menduga Jokowi mengetahui hal ihwal proyek tersebut, karena masih berada di bawah tanggungjawabnya. Hanya dengan menjawab pertanyaan publik, semua spekulasi terhadap Jokowi dapat berakhir. Jokowi juga tidak terus menerus tersandera oleh opini publik.

"Jokowi tak bisa mengelak. Harus berani menjelaskan, yakinkan publik Jakarta," katanya.

Tercatat, dalam seminggu terakhir sudah ada dua aksi yang menuntut Jokowi. Setelah beberapa hari lalu Gerakan kader HMI se-Jakarta melakukan aksi di depan KPK, sekelompok massa yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Pengguna Transjakarta (Amanat) adakan aksi serupa di depan gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin (2/6).

Sebelumnya, Koordinator Aksi Aliansi Masyarakat Pengguna Transjakarta, Pardi mengatakan, gubernur DKI Jakarta nonaktif Jokowi mustahil tidak tahu proses pengadaan bus Transjakarta. Itu lantaran pengadaan proyek senilai Rp 1,7 triliun itu merupakan program prioritas yang kerap dibahas setiap hari Senin.

"Mengapa dia (Jokowi) tidak tahu? Ini artinya sudah ada pengondisian. Bahkan kami punya bukti yang sedang diinventarisasi yang mengarah pada keterlibatan Jokowi," kata Pardi kepada wartawan saat berorasi di depan Kejagung.[dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya