Berita

RMI yang Pro Jokowi Pecah Belah Muhammadiyah

SABTU, 31 MEI 2014 | 14:00 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Deklarasi Relawan Matahari Indonesia yang dilakukan oleh segelintir alumni yang mengaku bagian dari Angkatan Muda Muhammadiyah dipersoalkan dan dianggap sebagai pembajakan.

Pasalnya, dalam deklarasi itu secara eksplisit membawa-bawa nama Muhammadiyah untuk mendukung capres/cawapres tertentu. Selain pada deklarator tidak memiliki hak karena tidak ada di dalam struktur AMM manapun, deklarasi tersebut juga dikhawatirkan akan merugikan eksistensi Muhammadiyah yang sangat jauh dari politik praktis.

"Katanya koordinatornya Izzul Muslimin. Setahu saya dia nyalegnya dari Hanura. Sayangnya, kok sekarang bawa-bawa nama AMM? Kenapa tidak bawa nama Angkatan Muda Hanura? Jangan-jangan ada agenda memecah suara AMM yang sudah jelas-jelas mendukung Prabowo-Hatta," demikian disampaikan Abdul Rahman Syahputra, Wakil Sekjend PP Pemuda Muhammadiyah, kepada redaksi sesaat lalu.


Putra juga mempertanyakan orang-orang yang direkrut di dalam tim itu. Pasalnya, tidak ada satupun ketua umum ortom yang aktif ikut serta. Yang ada hanya beberapa eksponen non-formal. Diyakini dukungan itu hanya seremonial yang sifatnya provokatif dan mau memecah belah suara Angkatan Muda Muhammadiyah yang saat ini masih diberi amanah.

"Izzul Muslimin itu dulu juga dukung JK-Win. Nyatanya kalah jauh dari SBY-Boediono. Sekarang mau dukung Jokowi-JK. Apa tidak belajar dari pengalaman pilpres yang lalu?"

Karena itu, warga persyarikatan Muhammadiyah diminta tidak terprovokasi dengan deklarasi-deklarasi seperti itu. Semestinya, warga persyarikatan melihat siapa saja orang-orang yang ada di barisan tersebut. Mereka yang aktif di kepengurusan, itulah semestinya yang berhak untuk menjaga kepentingan politik Muhammadiyah.

Putra juga menambahkan bahwa saat ini yang memimpin ortom Muhammadiyah adalah Saleh Daulay (Pemuda Muhammadiyah), Norma Sari (Nasyiyyatul Aisiyyah), Djihadul Mubarok (IMM), dan Fida Afif (IPM). Dia memastikan bahwa para deklarator tersebut tidak pernah berkordinasi dengan para pimpinan ortom di atas. Ini bisa dinilai sebagai pembajakan terhadap eksistensi ortom muhammadiyah secara umum. [dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Aplikasi Digital Berbasis White Label Dukung Operasional KDKMP

Kamis, 14 Mei 2026 | 05:59

Wamenaker Fasilitasi Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial di Multistrada

Kamis, 14 Mei 2026 | 05:43

DPD Dorong Kemenko Polkam Lahirkan Peta Jalan Keamanan Papua

Kamis, 14 Mei 2026 | 05:28

Mengoptimalkan Potensi Blue Ocean Economy

Kamis, 14 Mei 2026 | 04:53

Wagub Lampung Minta Gapembi Kawal Pemenuhan Standar MBG

Kamis, 14 Mei 2026 | 04:35

Analis Geopolitik: Tiongkok Berpotensi sebagai Global Stabilizer

Kamis, 14 Mei 2026 | 04:23

Prabowo dan Tumpukan Uang

Kamis, 14 Mei 2026 | 03:58

ANTAM Tetap Fokus Jaga Fundamental Bisnis di Tengah Dinamika Global

Kamis, 14 Mei 2026 | 03:46

Sukseskan Program Nuklir, PKS Dorong Pembentukan Kembali BATAN

Kamis, 14 Mei 2026 | 03:23

Paradigma Baru Biaya Logistik

Kamis, 14 Mei 2026 | 02:59

Selengkapnya