Kampanye jelang pemungutan suara untuk menentukan merdeka atau tidaknya Skotlandia resmi dimulai hari ini (Jumat, 30/5).
Kampanye tersebut akan dilakukan oleh dua kubu yakni pro-kemerdekaan Skotlandia dan pro-Britania Raya selama 16 minggu ke depan.
Pemungutan suara yang akan memutuskan apakah Skotlandia akan memerdekakan diri atau tetap menjadi bagian dari Inggris itu digelar pada 18 September mendatang.
Diketahui bahwa upaya memerdekakan Skotlandia dari Inggris disuarakan oleh kelompok nasionalis yang dipimpin oleh Scottish National Party (SNP) yang ingin mengakhiri kontrol langsung dari Inggris. Kendati menyuarakan kemerdekaan, mereka akan tetap mempertahankan aset gabungan dengan Inggris seperti mata uang pound dan sistem monarki.
Keinginan kelompok nasionalis tersebut ditentang oleh kelompok konservatif yang juga didukung oleh koalisi Perdana Menteri David Cameron dan Partai Buruh.
Inggris bahkan mengeluarkan permohonan persatuan dan menggarisbawahi perekonomian bersama yang dapat terganggu bila Skotlandia memerdekakan diri. Inggris juga menyebut bahwa Skotlandia lebih makmur dan lebih kuat sebagai bagian dari Britania Raya.
Pemerintahan Inggris bahkan telah melayangkan prospek untuk memberikan otonomi yang lebih bagi Skotlandia untuk meredam keinginan Skotlandia untuk memerdekakan diri.
Selama masa kampanye, dua kubu yang bertentangan akan mendapatkan porsi siaran kampanye gratis di media nasional.
Sejauh ini, seperti dilansir
Reuters, jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Skotlandia cenderung menolak kemerdekaan tersebut. 40 persen masyarakat Skotlandia menentang kemerdekaan, 30 persen mendukung, sedangkan sisanya masih ragu-ragu.
Skotlandia menjadi wilayah otonomi yang kaya minyak dan menyumbang sekitar sepersepuluh produk domesetik bruto Inggris.
Bila Skotlandia memisahkan diri dari Inggris, hal itu dapat melemahkan pengaruh diplomatik Inggris dan mempertanyakan kursi tetapnya di PBB.
[mel]