Sejak Perang Korea usai dengan perjanjian gencatan senjata tahun 1953 silam, hubungan bilateral Korea Selatan dan Korea Utara kerap diliputi oleh ketegangan. Namun demikian, bukan berarti masyarakatnya menginginkan permusuhan.
Setidaknya hal itu yang ditunjukkan dari hasil survei yang dirilis oleh Kementerian Unifikasi bidang urusan antar-Korea, Korea Selatan bersama dengan perusahaan survei Riset & Research, hari ini (Kamis, 29/5).
Dalam survei yang melibatkan 1.000 warga Korea Selatan itu ditemukan bahwa 58.2 persen di antaranya menyebut bahwa Korea Utara merupakan rekan yang dapat diajak kerjasama, 22.8 persen menyebut Korea Utara sebagai negara yang harus di beri bantuan, dan hanya 13.3 persen yang menyebutnya sebagai negara musuh.
Hasil survei tersebut, seperti dikutip
Yonhap, menggarisbawahi dukungan publik Korea Selatan yang luas untuk menjalin hubungan dengan Korea Utara kendati ketegangan di semenanjung akibat isu nuklir belum juga reda.
Lebih lanjut, jajak pendapat juga menemukan bahwa 37.1 persen warga Korea Selatan mendukung dialog dan upaya penekanan untuk mengatasi program nuklir Korea Utara. Sedangkan 34.7 persen lainnya memilih mendukung dialog dan kejasama demi penyelesaian masalah nuklir tesebut.
Survei tersebut dilakukan dengan wawancara melalui telepon antara tanggal 7-8 Maret 2014. Margin eror survei adalah 3.1.
[mel]