Berita

Catherine Ashton/net

Dunia

Ternyata, Bantuan Kemanusiaan untuk Pengungsi Disimpan di Rekening Pribadi di Luar Negeri

SABTU, 24 MEI 2014 | 22:30 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Setiap tahun sejak 1993, Uni Eropa mengucurkan bantuan sebesar 10 juta Euro atau setara Rp150 miliar untuk para pengungsi yang berada di Kamp Tindouf, Aljazair. Dana yang dikucurkan lewat Direktorat Jenderal Bantuan Kemanusiaan Komisi Eropa itu dikhawatirkan mengendap di kantong-kantong pejabat Polisario.

Kekhawatiran dan kecurigaan itu semakin memuncak belakangan ini.

Baru-baru ini anggota Parlemen Eropa dari Prancis, Gilles Pargneaux, mengajukan pertanyaan tertulis mengenai nasib bantuan kemanusiaan itu dan sejumlah isu lain mengenai kehidupan para pengungsi di kamp Tindouf.


Seperti dikutip dari Sahara News, menjawab pertanyaan itu Perwakilan Tinggi Urusan Luar Negeri Uni Eropa, Catherine Ashton, mengatakan bahwa bantuan yang dikirimkan dari Brussels itu tidak bisa disamakan dengan dukungan terhadap Polisario. Namun ia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai dugaan-dugaan bahwa bantuan tersebut disimpan di rekening di luar negeri untuk kepentingan elit Polisario.

Polisario berkuasa di Tindouf sejak kamp itu dibuka pada pertengahan 1970an. Selama Perang Dingin, Polisario mendapatkan dukungan penuh dari Aljazair dan Uni Soviet serta seluruh blok Timur. Namun setelah Uni Soviet bubar, Polisario tergantung pada sumbangan dari lembaga-lembaga internasional, termasuk Uni Eropa.

Sudah sejak beberapa tahun belakangan ini isu korupsi dana bantuan kemanusiaan di Tindouf meruak ke permukaan.

Sahara News melaporkan, berkaitan dengan isu kekerasan seksual di Tindouf, Catherine Ashton memberikan jawaban yang kontradiktif. Di satu sisi ia mengatakan tidak ada laporan mengenai kekerasan seksual yang dialami wanita-wanita Sahrawi di dalam kamp itu.

Di sisi lain, dia mengatakan bahwa UNHCR dan dua organisasi lokal berada di dalam kamp itu untuk menolong korban yang mengalami kekerasan seksual.

Jawaban kontradiktif Ashton itu menuai kecaman. Disebutkan baru-baru ini Laayoune TV menyiarkan pengakuan seorang janda yang menjadi korban pemerokosaan. Sang pemerkosa adalah mantan menteri pertahanan Polisario, Brahim Ghali. Namun sampai kini sang pelaku masih bebas berkeliaran. [mel]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

UPDATE

Sambut Imlek

Selasa, 20 Januari 2026 | 12:12

Warning Dua OTT

Selasa, 20 Januari 2026 | 12:01

AS Kirim Pesawat Militer ke Greenland, Denmark Tambah Pasukan

Selasa, 20 Januari 2026 | 11:41

Purbaya: Tukar Jabatan Kemenkeu-BI Wajar dan Seimbang

Selasa, 20 Januari 2026 | 11:34

Sumbar Perlu Perencanaan Matang Tanggap Bencana

Selasa, 20 Januari 2026 | 11:32

Stasiun MRT Harmoni Bakal Jadi Pusat Mobilitas dan Aktivitas Ekonomi

Selasa, 20 Januari 2026 | 11:29

Juda Agung Resign, Keponakan Prabowo Diusung Jadi Deputi Gubernur BI

Selasa, 20 Januari 2026 | 11:20

Kepala Daerah Harus Fokus Bekerja Bukan Cari Celah Korupsi

Selasa, 20 Januari 2026 | 11:16

Presiden Bulgaria Mundur di Tengah Krisis Politik

Selasa, 20 Januari 2026 | 10:53

Bupati Pati Sudewo Cs Digiring ke Gedung Merah Putih KPK

Selasa, 20 Januari 2026 | 10:41

Selengkapnya