Berita

ilustrasi demo bbm/net

Hukum

Tragedi Unas Berdarah Belum Tuntas

SABTU, 24 MEI 2014 | 01:04 WIB | LAPORAN:

Puluhan Mahasiswa Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Jumat malam (23/5) tadi menggelar unjuk rasa menuntut penuntasan Tragedi Unas Berdarah.

Aktivis Front Nasional, Ponco menyatakan, insiden penyerbuan kampus Unas oleh aparat kepolisian sudah berlalu selama enam tahun. Namun, hingga kini belum terungkap siapa pelaku dan dalang yang harus bertanggungjawab.

Berawal dari aksi demonstrasi mahasiswa menolak kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) oleh rezim Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla pada 2008 lalu. Pihak kepolisian membubarkan pengunjuk rasa dengan tindakan represif yakni menyerbu ke dalam kampus Unas dan melakukan pengrusakan sejumlah properti.


Akibatnya, puluhan mahasiswa menjadi korban, luka ringan, luka berat, bahkan satu orang Maftuh Fauzi meninggal dunia.

"Bolehlah enam tahun berlalu dan mereka berusaha melupakan kasus ini, tapi kita tak pernah lupa dan akan selalu menuntut kebenaran. Bila kata petinggi kampus  kasus tragedi Unas telah tuntas, tuntas dalam arti apa," kata Ponco.

Dia juga mempertanyakan tanggung jawab pihak kepolisian atas kerugian yang terjadi sampai dengan pemulihan nama baik para korban.

Menurut Ponco, hal ini makin membuktikan  tidak adanya ketegasan dari pemerintah untuk menangkap dan mengadili para pelaku pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di kampus Unas.

"Tragedi kemanusiaan terjadi bukan karena banyaknya orang jahat, tetapi mereka yang tahu kebenaran memilih untuk berdiam diri," tegasnya. [why]

Puluhan Mahasiswa Universitas Nasional (UNAS) Jakarta, malam ini menggelar aksi unjuk rasa menuntut penyelesaian tuntas Kasus Mei Tragedi Unas Berdarah, Jum'at (23/05/2014) .

Dalam peryataannya, Ponco aktivis Front Nasional menyatakan, Enam tahun sudah tragedi berdarah dikampus universitas nasional (UNAS) berlalu. Namun, sampai saat ini belum terungkap siapa pelaku pelanggaran HAM yg terjadi di kampus UNAS.

Berawal dari aksi demonstrasi mahasiswa UNAS menolak kebijakan kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) pada saat rezim Susilo Bambang Yudhoyono - Jusuf Kalla yang tidak pro terhadap rakyat, dalam aksi tersebut polisi melakukan tindakan represif dan penyerbuan kedalam kampus.

Puluhan mahasiswa menjadi korban, luka ringan, luka berat, bahkan sampai seorang mahasiswa UNAS meninggal dunia (Maftuh Fauzi). Keberingasan polisi terlihat nyata, pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) terjadi. Polisi terlihat membabi buta memukul semua mahasiswa yang ada di depan mata, menembak gas air mata dan peluru karet, kaca kaca di pecahkan, motor diterbalikan, mobil dirusak, ruang ruangan di obrak abrik.

"Bolehlah enam tahun berlalu dan mereka berusaha melupakan kasus ini, tapi kita tak akan pernah lupa dan akan selalu menuntut kebenaran. Bila kata petinggi kampus  kasus tragedi UNAS telah tuntas, tuntas dalam arti apa?," Tanya Ponco.

Dia juga mempertanyakan, apakah pihak kepolisian bertanggung jawab atas segala kerugian yang ada sampai dengan pemulihan nama baik? Apakah pihak petinggi kampus benar-benar lepas tangan atas tragedi tersebut?.

Ini makin membuktikan,  tidak adanya ketegasan dari pemerintah untuk berani menangkap dan mengadili para pelaku pelanggaran HAM dikampus UNAS.

“Tragedi kemanusiaan terjadi bukan karena banyaknya orang jahat, tetapi mereka yg tahu kebenaran memilih untuk berdiam diri,Usut Tuntas Tragedi UNAS" Pungkas nya.

- See more at: http://utama.seruu.com/read/2014/05/23/214908/tragedi-unas-berdarah-hari-ini-6-tahun-lalu#sthash.cWF0nKiY.dpuf

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Ini Lima Kebutuhan Dasar yang Jadi Tantangan Jakarta Versi Fahira Idris

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:21

Dari Modal Rp300 Ribu, IDEacraft Tembus Pasar Jateng Berkat Pemberdayaan BRI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:09

Islam, Sosialisme, dan Keindonesiaan: Jalan Perjuangan Kader SEMMI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:05

Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Masih Bisa Dilawan

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:41

Harga Pertamax Cs Diprediksi Turun pada Juli 2026

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:10

Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur Sambut HUT ke-499

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:04

Belanda Buka Asa Lolos 32 Besar Usai Gulung Swedia 5-1

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:28

Kemendikdasmen Ditagih soal Putusan MK terkait Sekolah Swasta Gratis

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:06

Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa Untungkan Kubu Jokowi secara Opini

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:01

Aliansi BEM Persatuan Indonesia Dukung MBG, Ini Syaratnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 01:34

Selengkapnya