Berita

Foto: MOROCCO WORLD NEWS

Dunia

Lagi, Keluarga Sahrawi Meninggalkan Kamp Tindouf

JUMAT, 23 MEI 2014 | 17:32 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Satu keluarga Sahrawi yang sudah hampir empat dekade tinggal di kamp pengungsi Tindouf, Aljazair, memutuskan menetap di Sahara, selatan Maroko.

Keluarga yang terdiri dari ibu dan ayah serta empat orang anak ini berada di Maroko dalam program saling kunjung antara keluarga-keluarga Sahrawi yang ada di Maroko dan di kamp pengungsi Tindouf. Program ini dikelola oleh Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB. Mereka menyatakan niat menetap di Maroko dalam pertemuan dengan otoritas di Laayoune, Maroko.

Menurut Morocco World News, keluarga Sahrawi itu tiba di Maroko pada 15 Mei lalu.


Kepala keluarga itu memutuskan menetap di Maroko dan meninggalkan penderitaan yang mereka alami selama berada di kamp Tindouf.

Kamp ini merupakan markas kelompok Polisario. Sejak pertengahan era 1970an lalu kelompok ini mengklaim wilayah selatan Maroko sebagai negara merdeka dan berdaulat.

Maroko yang berdiri sejak abad ke-8 mengalami perpecahan ketika pada 1912 Prancis dan Spanyol menandatangani Perjanjian Fez. Dalam perjanjian itu disebutkan Prancis menjadikan wilayah utara Maroko sebagai wilayah yang mereka lindungi. Sementara Spanyol menjajah wilayah selatan.

Pada 1956 Prancis meninggalkan wilayah utara Maroko. Sejak saat itu pejuang-pejuang Maroko dari utara dan selatan bersatu untuk membebaskan wilayah selatan Maroko yang masih dikuasai Spanyol. Baru pada pertengahan 1975 Spanyol meninggalkan wilayah selatan Maroko menyusul krisis regional di Eropa barat ketika itu.

Polisario berkuasa di Tindouf atas sokongan Aljazair. Di masa Perang Dingin, poros Moskow-Aljazair menjadikan Polisario sebagai petarung di garis depan untuk mendapatkan akses ke Samudera Atlantik dengan cara mendapatkan wilayah selatan Maroko.

Menyusul kehancuran Uni Soviet, Polisario mulai kehilangan kekuatan, dan kini menggunakan pengungsi sebagai alat untuk mendapatkan bantuan keuangan dan politik dari dunia internasional. Namun belakangan bantuan keuangan dan politik itu pun semakin berkurang. [mel]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

UPDATE

Sambut Imlek

Selasa, 20 Januari 2026 | 12:12

Warning Dua OTT

Selasa, 20 Januari 2026 | 12:01

AS Kirim Pesawat Militer ke Greenland, Denmark Tambah Pasukan

Selasa, 20 Januari 2026 | 11:41

Purbaya: Tukar Jabatan Kemenkeu-BI Wajar dan Seimbang

Selasa, 20 Januari 2026 | 11:34

Sumbar Perlu Perencanaan Matang Tanggap Bencana

Selasa, 20 Januari 2026 | 11:32

Stasiun MRT Harmoni Bakal Jadi Pusat Mobilitas dan Aktivitas Ekonomi

Selasa, 20 Januari 2026 | 11:29

Juda Agung Resign, Keponakan Prabowo Diusung Jadi Deputi Gubernur BI

Selasa, 20 Januari 2026 | 11:20

Kepala Daerah Harus Fokus Bekerja Bukan Cari Celah Korupsi

Selasa, 20 Januari 2026 | 11:16

Presiden Bulgaria Mundur di Tengah Krisis Politik

Selasa, 20 Januari 2026 | 10:53

Bupati Pati Sudewo Cs Digiring ke Gedung Merah Putih KPK

Selasa, 20 Januari 2026 | 10:41

Selengkapnya