Rusia sepakat memberikan pasokan gas alam kepada China selama 30 tahun, terhitung sejak tahun 2018.
Hal itu terkuak dalam perjanjian yang dibentuk kedua belah pihak di Beijing (Rabu, 21/5).
Secara lebih spesifik, kesepakatan tersebut dijalin oleh perusahaan gas negera Rusia Gazprom dan China National Petroleum Corporation (CNPC) selama kunjungan Presiden Valdimir Putin ke negeri tirai bambu tersebut.
Dalam perjanjian disebutkan bahwa Gazprom akan memasok 39 miliar kubik meter gas kepada China setiap tahunnya, dengan potensi peningkatan hingga 60 miliar kubik meter per tahun.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 10 persen penjualan tahunan Gazprom dari total 447 miliar kubik meter untuk konsumen domesetik maupun luar negeri.
Namun Kementerian Energi Rusia menolak menjelaskan mengenai harga yang akan dibayarkan oleh China untuk pasokan gas tersebut. Namun sebelum perjanjian resmi dibuat, seperti dilansir
CNN, Rusia menyebut harapan biaya sebesar 456 miliar US dolar dalam jangka waktu 30 tahun.
Diketahui China sangat bergantung pada pasokan batu bara untuk pembangkit tenaga listrik dan sedang berusaha beralih ke sumber energi lainnya yang lebih bersih seperti gas untuk mengurangi tingkat polusi yang terjadi di sejumlah kawasan industri. Dengan demikian, kesepakatan yang baru dijalin dengan Rusia membawa angin segar untuk mengatasi masalah polusi tersebut.
Sedangkan bagi Rusia, perjanjian tersebut penting demi mengamankan pasar. Pasalnya Rusia tengah berupaya mengalihkan pasokan gas ke Eropa yang semula memiliki ketergantungan 30 persen gas dari Gazprom ke kawasan lain. Hal itu terkait dengan krisis yang terjadi di Ukraina, di mana Eropa sepakat memberlakukan sanksi kepada Rusia yang dinilai memiliki peran dalam krisis Ukraina.
[mel]