Berita

ilustrasi/net

Dunia

Dampak Uji Coba Nuklir Bisa Berbalik ke Korea Utara

SELASA, 20 MEI 2014 | 13:59 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Korea Utara dapat memukul telak negara serumpun, Korea Selatan dan memperburuk hubungan dengan Amerika Serikat bila melancarkan uji coba nuklir keempat dalam waktu dekat ini.

Pasalnya negeri gingseng masih dalam suasana berduka akibat tragedi tenggelamnya kapal feri Sewol. Selain itu, uji coba nuklir juga dapat mematahkan visi "One Korea" yang kerap digaungkan oleh Korea Selatan.

Begitu kata koresponden Korea Focus di Washington, Park Hyun dalam tulisannya awal Mei lalu.


Park menyebut bahwa Korea Utara telah mengindikasikan keinginannya untuk kembali melakukan uji coba nuklir. Hal itu terlihat dari adanya percepatan operasi di situs Punggye-ri, Kilju, Provinsi Hamgyong Utara. Situs tersebut merupakan lokasi dilakukannya tiga uji coba nuklir terdahulu, tepatnya pada tahun 2006, 2009, dan 2013.

Terkait hubungan Korea Utara dan Amerika Serikat, Park menjelaskan bahwa uji coba nuklir justru akan semakin merentangkan jarak kedua negara untuk menormalisasi hubungan bilateral sekaligus menutup peluang dialog di sisa masa jabatan Presiden Barack Obama.

Padahal, pada Juni tahun lalu Pyongyang sendiri yang secara resmi mengusulkan dibukanya kembali dialog bilateral tingkat tinggi dengan Washington. Namun usulan tersebut berkembang dengan alot.

"Kepemimpinan Korea Utara mungkin meyakini bahwa memiliki kemampuan nuklir yang kuat adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup," beber Park.

Padahal, lanjutnya, terdapat cukup alasan untuk membuka kembali dialog antara Pyongyang dan Washington. Terlebih kebijakan luar negeri yang diterapkan Obama memungkinkan hal itu terjadi.

"Tidak seperti pendahulunya, George W. Bush, Presiden Obama tidak menggunakan opsi militer dalam sengketa yang terjadi di Suriah dan Ukraina. Dalam berurusan dengan isu nuklir Iran, Obama juga membuat upaya diplomatik," ujarnya.

Di dalam pemerintahan Obama sendiri, sambung Park, ada suara-suara yang berkembang untuk memulihkan hubungan dengan Korea Utara. Namun, suara-suara tersebut akan meredup bila Korea Utara melancarkan kembali uji coba nuklir.

"Bila Korea Utara berpikir bahwa uji coba nuklir akan membawa Amerika Serikat ke meja perundingan, (maka) itu adalah penilaian yang gagal," jelasnya.

Lebih lanjut Park menyebut bahwa Korea utara seharusnya bertanya pada diri sendiri apakah telah melakukan upaya yang diperlukan untuk melanjutkan kembali dialog dengan Amerika Serikat. Sedangkan pakar di Amerika Serikat sendiri, menurut Park, tidak menanggapi usulan dialog dari Korea Utara.

Pasalnya rezim Kim Jong-un kepalang dinilai tidak dapat dipercaya, merujuk pada sejumlah kejadian sebelumnya. Seperti pada Februari 2012 silam ketika Korea Utara mengancam untuk melancarkan serangan nuklir ke daratan Amerika Serikat. Padahal saat itu keduanya tengah berada dalam satu forum bersama yakni Six Party Talks untuk penyelesaian damai nuklir Korea Utara.

Karena itu, jelas Park, bila Korea Utara memiliki inisiatif untuk membuka kembali dialog damai, maka sikap pemimpin tertingginya harus mencerminkan hal itu. Satu-satunya cara Korea Utara untuk mematahkan ketidakpercayaan stategis internasional adalah menunjukkan inisiatifnya melalui kata-kata, tindakan, maupun gebrakan personal dari pemimpin tertingginya, dalam hal ini adalah Kim Jong-un.

"Dalam situasi serupa, pemimpin tertinggi Iran (Hassan Rouhani) secara personal membuat usulan dan mengunjungi PBB untuk menyelesaikan masalah nuklir mereka," kata Park memberi contoh kasus serupa.

Dengan demikian, jelas Park, langkah awal yang harus dilakukan Korea Utara untuk memuluskan jalan bagi dibukanya kembali dialog bilateral adalah dengan melepaskan sejumlah warga Amerika Serikat yang ditahan di negara tersebut.

Langkah berikutnya adalah menghentikan uji coba nuklir.

"Jika Korea Utara berhasil mengambil tindakan dan mempertahankan sikap yang konsisten, kesempatan pasti akan datang untuk melakukan dialog dengan Washington," tandasnya. [mel]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

UPDATE

Ketum PDIP Tinjau Kantor Baru Megawati Institute

Selasa, 20 Januari 2026 | 22:14

Polisi Bongkar Jaringan Senpi Ilegal Dipakai Begal, Dijual di Facebook Hingga Tokopedia

Selasa, 20 Januari 2026 | 22:09

Bupati Sudewo dan Tiga Kades Kajen Resmi Ditahan, Digiring ke Rutan Pakai Rompi Oranye

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:53

Wapres Gibran Blusukan ke Pasar Borong Daun Bawang

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:48

Istana Rayakan Prestasi Timnas Maroko sebagai Runner-Up Piala Afrika 2025

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:32

Polisi Sudah Periksa 10 Saksi dan Ahli Terkait Pelaporan Pandji Pragiwaksono

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:29

Komisi II Hanya Fokus Revisi UU Pemilu, Bukan Pilkada

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:22

Thomas Djiwandono Mundur dari Gerindra Usai Dicalonkan Jadi Deputi Gubernur BI

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:10

Bupati Pati Sudewo dan Tiga Kades Patok Harga hingga Rp225 Juta per Jabatan Perangkat Desa

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:00

Daftar 28 Perusahaan Sumatera yang Izinnya Dicabut Prabowo

Selasa, 20 Januari 2026 | 20:56

Selengkapnya