. Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa merupakan tokoh yang selalu membawa arah dan dinamika bagi pentingnya memelihara semangat ukhuwah Islamiyah, terutama dalam konteks kebangsaan. Karena itu, duet ini pasti bisa diterima oleh komponen keislaman. Apalagi, selama ini juga, keduanya merupakan sosok yang telah banyak bersentuhan dalam aspirasi keumatan dan mampu merekat komunikasi dengan elemen Islam.
Demikian disampaikan Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan, terkait keraguan yang disampaikan Ketua Harian Majelis Syariah DPP Partai Persatuan Pembanguan (PPP) KH Nur Muhammad Iskandar. Nur Muhammad Iskandar mengatakan pasangan Prabowo-Hatta sulit dipilih warga Nahdlatul Ulama (NU) dengan alasan cawapresnya bukan berasal dari NU.
Menurut Syahganda, beberapa saat lalu (Kamis, 15/5), keraguan Nur Iskandar bukanlah sebuah sikap antipasti kepada Hatta Rajasa. Selain itu, penyataannya pun belum sepenuhnya dipandang mewakili suara basis NU.
"Ini, kan konteksnya Kyai Nur Iskandar sebagai elit PPP, dan meskipun PPP berbasis pada massa NU, namun keberatannya tentu tidak otomatis menjadi sikap politik yang meliputi warga NU pada umumnya," kata mantan Direktur Eksekutif Center for Information and Development Studies (CIDES) itu.
Syahganda yang juga anggota dewan pengarah Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) Pusat, itu menambahkan, figur Nur Iskandar sebenarnya dikenal memiliki pergaulan luas dengan kelompok Islam di luar NU, sehingga sikap dan pemikirannya jauh lebih moderat termasuk bersifat akomodatif dalam melihat perkembangan, baik menyangkut politik keumatan atau kebangsaan.
"Jadi, melihat kewibawaan dan penerimaan figurnya yang diterima luas oleh umat Islam, maka tidak mungkin Kiai Nur dengan mudah akan menolak kehadiran sosok cawapres berunsur Islam yang walaupun tidak khusus mewakili NU," ungkapnya.
Syahganda justru berpendapat, Hatta Rajasa selaku cawapres perlu dinilai dalam kapasitas aset nasional yang sudah teruji rekam jejak maupun komitmen kebangsaanya, dan di sisi lain harus ditempatkan sebagai agenda menciptakan kemaslahatan bangsa berikut untuk kemajuan umat Islam, yang diakui masih mengalami ketertinggalan di bidang sosial ekonomi.
"Karena itu, keberadaan Hatta Rajasa dengan mandat cawapres memerlukan apresiasi serta dukungan berbagai pihak di tingkat pemangku keumatan, demi agenda besar bangsa dan umat Islam sendiri," pungkas Syahganda.
[ysa]