Berita

golkar/net

Gabung dalam Koalisi, Golkar Harus Tetap Hormati Jokowi Susun Kabinet Profesional

SELASA, 13 MEI 2014 | 11:38 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Kegenitan elit-elit Partai Golkar untuk berkoalisi dengan PDI Perjuangan semakin mengemuka usai Prabowo memastikan Hatta Rajasa sebagai calon wakil presidennya. Tidak kurang, jajaran Dewan Pimpinan Pusat Golkar pun juga mengakui perlu ada evaluasi akan pencapresan Aburizal Bakrie mengingat Golkar gagal menang di pemilu legeslatif kemarin.

Pengamat komunikasi politik Ari Junaedi, melihat Golkar tengah melancarkan rayuan-rayuan genit kepada PDI Perjuangan. Golkar tengah galau karena merasa jomblo di pusaran parpol-parpol yang sudah merapat dalam barisan koalisi. Jika Jokowi sudah merasa nyaman dengan bergabungnya Nasdem, PKB dan PKPI ke dalam PDIP, maka Prabowo juga merasa tenang ketika PPP dan PAN sudah memastikan merapat ke Gerindra.

"Ada rasa panik di kubu Ical ketika tidak ada parpol satu pun yang mengajak koalisi dengan Golkar. Harus diakui, betul kata Rizal Malarangeng kalau Golkar diibaratkan seperti gadis cantik. Namun Rizal lupa atau pura-pura lupa jika nama Ical sulit dijual ke pemilih karena masih lekatnya persepsi negatif atas ulah korporasi-korporasi milik Ical," kata Ari Junaedi kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 13/5).


Menurut pengajar program pascasarjana Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini, koalisi dalam kondisi politik seperti sekarang ini memang diperlukan. Memang ideal jika Golkar merapat dalam barisan penyokong Jokowi. Namun hendaknya Golkar menghormati Jokowi dan parpol-parpol yang telah bergabung terlebih dulu untuk tidak memaksakan diri mengajukan cawapres.

"Jangan sampai niatan Golkar untuk masuk ke koalisi Jokowi hanya karena ambisi mengincar posisi nomor dua. Hormati tekad Jokowi untuk membentuk kabinet kerja yang profesional agar sistem presidensial di bawah kepemimpinan Jokowi menguat," tandas Ari Junaedi yang juga dosen S2 Komunikasi Politik di Universitas Persada Indonesia (UPI YAI) Jakarta dan Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya ini. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Rano: Pendidikan Harus Memerdekakan Manusia

Jumat, 08 Mei 2026 | 00:05

Car Free Day di Rasuna Said Digelar Perdana 10 Mei

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:34

Kasus Pemukulan Waketum PSI Bro Ron Berujung Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:12

Kali Kukuba di Halmahera Timur Diduga Tercemar Limbah PT FHT

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:00

Pemerintah Bebaskan Pajak Restrukturisasi BUMN

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:39

Negara Disebut Kehilangan Ratusan Triliun dari Bisnis Sawit

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:15

Akper Husada Naik Kelas Jadi STIKES

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:06

Dugaan Jual Beli Jabatan Pemkab Cianjur Bisa Rusak Meritokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 21:27

DPR Usul 1 Puskesmas Punya 1 Psikolog

Kamis, 07 Mei 2026 | 21:04

New Media Merasa Dicatut, DPR Minta Bakom Lebih Hati-hati

Kamis, 07 Mei 2026 | 20:50

Selengkapnya