Berita

rizal ramli

PILPRES 2014

Mengapa Sebagian Elit PDIP Menolak Rizal Ramli

SELASA, 13 MEI 2014 | 09:00 WIB | OLEH: ADE MULYANA

SALAH satu nama yang juga dibicarakan dan dibahas dengan hangat di lantai bursa calon wakil presiden PDI Perjuangan adalah Rizal Ramli. Mantan Menko Ekuin dan Menteri Keuangan ini sebenarnya bukan tokoh baru apalagi asing di kalangan elit PDIP.

Bagi sebagian elit partai banteng bermoncong putih itu, Rizal Ramli adalah mentor yang baik, yang ikut membimbing mereka hingga kini menjadi "orang" di partai itu. Rizal Ramli juga memiliki hubungan yang amat baik dengan keluarga Bung Karno, baik dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Guntur Soekarnoputri maupun dengan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Nasdem Rachmawati Soekarnoputri.

Satu hal yang paling penting di atas semua itu adalah, pikiran-pikiran dan keputusan-keputusan ekonomi-politik yang diambil Rizal Ramli saat menjabat sebagai Kabulog, Menko Ekuin maupun Menkeu memperlihatkan keberpihakannya pada rakyat, kepada wong cilik.


Bila PDIP benar-benar mencari tokoh yang mengerti dan memahami ajaran Tri Sakti, serta memiliki kemampuan untuk mempraktikkan ajaran itu, maka Rizal Ramli adalah pilihan yang tepat dan rasa-rasanya paling pantas.

Terobosannya kerap mencengangkan. Dia, misalnya, pernah menyelamatkan PTDI, juga membailout BII tanpa mengeluarkan satu rupiahpun uang negara. Rizal Ramli juga berperan besar pada masanya mengubah Bulog dari salah satu lembaga sapi perah penguasa menjadi lembaga yang benar-benar melindungi petani.

Rizal Ramli bukan penganut paham nasionalisme sempit atau chauvinis yang ugal-ugalan. Baginya, mengedepankan kepentingan nasional dan rakyat banyak bukan berarti harus membuat demarkasi yang kaku dengan pihak asing. Kesadaran dan kemampuannya menempatkan diri dalam tata pergaulan global membuat alumni Boston University itu sampai kini menjadi anggota Panel Ahli di PBB.

Di tahun 2009 lalu, nama Rizal Ramli juga masuk bursa cawapres untuk mendampingi Megawati Soekarnoputri. Ketika itu ia bersaing ketat dengan Prabowo Subianto. Diskusi yang panjang mengenai cara memenangkan Megawati diakhiri satu pertanyaan kunci: darimana uang untuk memenangkan pertarungan?

Pertanyaan yang satu ini bikin Rizal Ramli gelagapan. Langkahnya terhenti, dan seperti yang sudah dicatat dalam sejarah, Megawati akhirnya berpasangan dengan Prabowo Subianto yang dari segi dana lebih menjanjikan.

Kini nama Rizal Ramli kembali dibicarakan di lantai bursa cawapres PDIP. Tetapi agaknya masih ada faksi atau elit PDIP yang enggan menerima Rizal Ramli. Pertimbangan mereka umumnya masih sama dengan pertimbangan di tahun 2009, strategi memenangkan pilpres membutuhkan dana yang besar. Sementara bicara soal dana, Rizal Ramli bukan pilihan yang mengasyikan.

Alasan lain menolak kehadiran Rizal Ramli karena dia dinilai tidak punya kendaraan politik dan basis dukungan.

Yang harus disadari, PDIP sedang berhadapan dengan sebuah momentum paling menentukan. Baik bagi masa depan bangsa ini, juga bagi masa depan partai itu sendiri. Ini adalah momentum paling pas bagi PDIP untuk mengembalikan politik ke jalan yang benar, jalan yang suci. Jalan yang dijauhkan dari praktik pembelian dukungan dan manipulasi suara.

Dalam pileg yang lalu, PDIP berhasil membuktikan hal itu. Semestinya, untuk menghadapi pilpres keyakinan itu harus dipertahankan. Memilih tokoh yang kredibel, tidak punya kepentingan bisnis pribadi maupun kelompok, serta punya kemampuan menjabarkan ajaran Tri Sakti untuk kemashlahatan rakyat mestinya menjadi strategi utama.

Memasangkan Jokowi yang dikenal sederhana dan santun dengan tokoh yang punya banyak masalah berbau KKN maupun masalah-masalah lain, kendati punya uang banyak, akan menciptakan blunder di hati rakyat.

Tidak memiliki partai politik, untuk orang-orang seperti Rizal Ramli adalah keuntungan tersendiri. Itu membuat basis dukungannya sebenarnya cukup luas. Ia bisa menempatkan diri di banyak kalangan, ormas dan parpol.

Keberpihakannya pada ekonomi kerakyatan membuat ia punya tempat spesial di hati kaum nasionalis tradisional. Ini juga mendekatkan dirinya dengan kaum Nahdliyin kultural. Bahkan di kelompok yang terakhir ini, yang jumlahnya cukup besar, Rizal Ramli kerap disapa Gus Romli.

Kaum buruh juga menghormati pikiran-pikiran ekonomi Rizal Ramli. Ia pro pada industri nasional yang membutuhkan persatuan kaum pengusaha dan pekerja.

Satu yang juga tidak bisa dipungkiri, ada lebih dari 30 persen rakyat Indonesia dapat dikatakan "anti partai politik". Mereka tidak percaya pada mekanisme partai politik memilihkan elit politik untuk mengelola bangsa besar ini. Bagi mereka, pada titik ekstrem, partai politik dipandang sebagai institusi kartel korup.

Di kalangan itu, Rizal Ramli cukup punya tempat. Itu juga sebabnya sementara kalangan masih percaya bahwa memasangkan Rizal Ramli untuk memperkuat Jokowi bisa mengembalikan kepercayaan rakyat kepada partai politik, kepada jalan demokrasi Indonesia. [***]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya