. Koalisi kerempeng calon presiden Jokowi dengan dukungan tiga parpol, PDI Perjuangan, Partai Nasdem dan PKB dinilai lebih cocok menggandeng Jusuf Kalla sebagai cawapres. Pasalnya, koalisi kerempeng itu harus diperkuat oleh figur yang berpengalaman, mandiri dan independen sebagai seorang praktisi ekonomi sebagaimana dimiliki JK.
"Jokowi dan PDIP sudah tegas menolak koalisi tambun, tapi lebih cocok dengan koalisi kerempeng. Karena itu, figur yang pas ditempatkan sebagai cawapresnya adalah JK," kata pengamat politik LIPI Arbi Sanit di Jakarta, Senin (12/5).
Menurut dia, dengan menempatkan JK sebagai cawapres, bisa memberikan keuntungan tersendiri dalam dukungan menciptakan kemandirian di bidang ekonomi bagi pemerintahan Jokowi mendatang. Apalagi, masalah mendatang lebih banyak diwarnai persoalan ekonomi.
Di bagian lain, Arbi Sanit mengaku munculnya nama Abraham Samad sebagai cawapres Joko Widodo di menit-menit akhir agak aneh. Apalagi dia melihat secara kualifikasi, figur Abraham jauh dari kualitas yang didambakan sebagai seorang cawapres yang menopang kerja Jokowi di pemerintahan.
"Memang Abraham Samad sudah muncul sebagai figur alternatif bersama JK (Jusuf Kalla), RR (Ryamizard Ryacudu) dan Mahfud MD. Cuma masalahnya apakah memang Samad memenuhi kualifikasi cawapres. Itu yang jadi persoalan," katanya.
Bagi Arbi Sanit, kualifikasi cawapres yang ideal untuk mendampingi Joko Widodo harus menutupi kelemahan Jokowi. karenanya dia menilai figur cawapres Jokowi harus bisa menguasai tiga hal, yakni bermain di kalangan elit di tingkat nasional, di kalangan internasional dan mengelola ekonomi makro.
"Apa tahunya Samad soal itu. Kalau dia tidak membawa tambahan kapabilitas, dapat tiket gratis saja tanpa bekerja apa-apa buat modal," terangya.
Karenanya dia menilai aneh dengan kemunculan nama Abraham samad. Selain secara figur kualitas cawapres masih jauh. Apalagi tugas Abraham di KPK masih jauh lebih penting dari sekedar cawapres. "Memang wapres tugasnya cuma berantas korupsi. Itu tidak ada di konstitusi, itu level menteri saja," tegasnya.
Meski terbilang aneh, Arbi mengaku tidak tahu apakah munculnya Abraham Samad merupakan keinginan dari orang-orang yang gelisah dengan kiprah Abraham di KPK sehingga berupaya mendorong Abraham masuk ke lingkaran pemerintah. Selain karena dia tidak tahu penggagasnya siapa, dia juga tidak tahu kepentingannya mendorong Abraham.
[rus]