Presiden Sudan Selatan Salva Kiir dan pemimpin kelumpok pemberontak Riek Machar menggelar pertemuan untuk pertama kalinya sejak kekerasan masal terjadi.
Pertemuan tersebut berlangsuh di Ethiopia hari ini (Jumat, 9/5).
Diketahui konflik yang terjadi di negara sempalan Sudan itu telah menyebabkan jatuhnya ribuan korban jiwa dan lebih dari satu juta orang kehilangan tempat tinggalnya.
PBB dalam sebuah laporan yang dirilis Kamis (8/5) menjelaskan bahwa sejumlah tindak kejahatan yang terjadi di Sudan Selatan mencakup kejahatan kemanusiaan seperti pembunuhan massal, perbudakan seksual, serta pemerkosaan.
Laporan tersebut juga menyebut bahwa kejahatan terjadi secara luas dan sistematis karena terjadi tidak mengenal lokasi. Tindak kejahatan kerap terjadi di rumah, rumah sakit, masjid, gereja, dan sejumlah lokasi umum lainnya.
Mediator perdamaian di Ethiopia mengkonfirmasi bahwa Machar telah tiba di negara tersebut sejak kemarin (Kamis, 8/5) untuk mempersiapkan pembicaraan hari ini di Addis Ababa.
Sementara itu Perdana Menteri Norwedia Borge Brende menjelaskan bahwa pembicaraan antara kedua belah pihak di Sudan Selatan itu harus mencakup garis besar bagi transisi pemerintahan secara inklusif.
"Jika tidak, akan ada konsekuensi yang akan mengikuti. Kami akan meningkatkan tekanan pada semua pihak. Tindakan Bahkan lebih keras akan mengikuti dalam beberapa minggu mendatang jika tidak ada kemauan politik untuk mengatasi krisis," lanjutnya seperti dilansir
BBC.
Kekerasan di negara yang baru resmi merdeka pada tahun 2011 lalu itu bermula ketika Presiden Kiir menuduh wakilnya yang dipecat, Machar merencakan kudeta dirinya.
Machar membantah tuduhan tersebut namun kemudian mengerahkan pasukan pemberontak untuk melawan pemerintah.
[mel]