Dunia internasional tidak seharusnya diam melihat peristiwa penculikan ratusan gadis belasan tahun di sekolah di Nigeria yang dilakukan oleh kelompok pemberontak Boko Haram.
Hal itu diserukan oleh gadis yang belakangan muncul menjadi simbol pejuang pendidikan Pakistan, Malala Yousafzai kepada BBC (Rabu, 7/5).
"Bila kita tetap diam maka hal ini akan menyebar, ini akan terjadi lebih dan lebih," kata Malala.
Malala menyebut para gadis yang diculik tersebut sebagai saudara atau sister yang berada di dalam penjara.
Gadis 16 tahun tersebut menjelaskan bahwa cara satu-satunya untuk menghentikan kejadian serupa terulang kembali ke depannya adalah dengan bicara.
Ia menggambarkan kelompok Boko Haram sebagai kelompok ekstrimis yang tidak memahami bahwa Islam menyerukan pada umatnya untuk bertanggungjawab atas pendidikan dirinya sendiri, bertoleransi dan bersikap baik dengan lainnya.
Pernyataan Malala tersebut merupakan tanggapan atas perkembangan terbaru kasus penculikan lebih dari 200 gadis di Nigeria. Pada Senin (5/5) pemimpin Boko Haram Abubakar Shekau muncul dalam sebuah tayangan video.
Ia menyebut bahwa pihaknya bertanggungjawab atas penculikan tersebut. Para gadis tersebut diculik untuk dijual. Shekau menyebut bahwa para gadis tersebut tidak seharusnya sekolah, karena mereka menilai pendidikan adalah bentukan barat dan merupakan sebuah dosa. Sehingga mereka seharusnya menikah, bukan belajar.
Peristiwa tersebut menyedot perhatian dunia internasional, pasalnya pemerintah Nigeria belum juga berhasil menemukan di mana keberadaan para gadis tersebut.
Amerika Serikat bahkan ikut turun tangan dengan mengrimkan tim ahli untuk membantu pencarian dan mengembalikan para gadis ke rumahnya masing-masing.
[mel]