Berita

presiden sby/net

SBY Tak Boleh Terjebak Kelicikan Australia yang Dibungkus Keramahan Tony Abbott

RABU, 07 MEI 2014 | 08:25 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Presiden SBY harus menyikapi telepon dari Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, secara hati-hati agar tidak merugikan kepentingan nasonal Indonesia.

Demikian disampaikan Gurubesar hukum internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana. Pernyataan Hikmahanto ini terkait dengan pemberitaan bahwa Tony Abbott menelepon Presiden SBY selama 9 menit untuk menyampaikan penyesalannya tidak dapat memenuhi undangan hadir di Bali dalam Konferensi Open Government Partnership.

Menurut Hikmahanto, sikap hati-hati SBY ini penting  mengingat pada waktu hampir bersamaan terdapat insiden Australia mendorong kapal pencari suaka ke wilayah teritorial Indonesia. Bahkan pihak Australia menaikkan tiga orang lain lagi, yang sebelumnya ditahan, ke dalam kapal tersebut. Dan hal terakhir ini merupakan modus yang sebelumnya belum pernah dilakukan oleh otoritas Australia.


"Pada pemberitaan media Australia diindikasikan ketidakhadiran PM Abbott yang sebelumnya telah dikonfirmasi bertalian tentang insiden ini," kata Hikmahanto kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Rabu, 7/5).

Sebagaimana disuarakan oleh Menlu Marty Natalegawa, ungkap Hikmahanto, Indonesia telah mengkritik secara keras kebijakan PM Tony Abbott untuk menghalau para pencari suaka ke wilayah teritorial Indonesia. Oleh karenanya Indonesia tidak perlu terburu-buru atau merasa bersalah dengan belum normalnya hubungan Indonesia-Australia sebelum PM Tony Abbott mencabut kebijakan unilateral menghalau kapal pencari suaka yang merugikan Indonesia.

Presiden SBY, lanjut Hikmahanto, juga tidak perlu merasa harus menanggung beban untuk memperbaiki hubungan Indonesia-Australia karena akan mengakhiri masa jabatannya di bulan Oktober. Sebab pemulihan hubungan akan sangat bergantung pada kebijakan PM Tony Abbott atas masalah penyadapan dan masalah pencari suaka.

"Presiden tidak boleh terjebak atas kelicikan Australia karena keramahan PM Tony Abbott melakukan telepon pribadi," demikian Hikmahanto. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Rano: Pendidikan Harus Memerdekakan Manusia

Jumat, 08 Mei 2026 | 00:05

Car Free Day di Rasuna Said Digelar Perdana 10 Mei

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:34

Kasus Pemukulan Waketum PSI Bro Ron Berujung Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:12

Kali Kukuba di Halmahera Timur Diduga Tercemar Limbah PT FHT

Kamis, 07 Mei 2026 | 23:00

Pemerintah Bebaskan Pajak Restrukturisasi BUMN

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:39

Negara Disebut Kehilangan Ratusan Triliun dari Bisnis Sawit

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:15

Akper Husada Naik Kelas Jadi STIKES

Kamis, 07 Mei 2026 | 22:06

Dugaan Jual Beli Jabatan Pemkab Cianjur Bisa Rusak Meritokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 21:27

DPR Usul 1 Puskesmas Punya 1 Psikolog

Kamis, 07 Mei 2026 | 21:04

New Media Merasa Dicatut, DPR Minta Bakom Lebih Hati-hati

Kamis, 07 Mei 2026 | 20:50

Selengkapnya