Berita

ilustrasi

Dunia

Dilayangkan Petisi Online, Coca-Cola Hapus Bahan Ini Dari Produknya

SELASA, 06 MEI 2014 | 11:55 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Produsen minuman kelas dunia Coca-Cola berencana membuang sebuah bahan kontroversial dari merk minumannya akhir tahun ini.

Hal tersebut dilakukan menyusul petisi online yang dilayangkan kepada perusahaan asal Amerika Serikat itu.

Bahan kontroversial tersebut adalah minyak sayur brominasi atau brominated vegetable oil (BVO) yang ditemukan dalam merk Coca-Cola dan produk minuman lainnya seperti Fanta dan Powerade.


Juru bicara Coca-Cola, Josh Gold menekankan bahwa pembuangan bahan BVO bukan dilakukan karena alasan keamanan.

"Seluruh minuman kami, termasuk yang mengandung BVO aman dan akan selalu aman, serta tunduk pada peraturan dari pemerintah di mana minuman tersebut dijual," katanya dalam sebuah pernyataan seperti dilansir BBC (Selasa, 6/5).

"Keamanan dan kualitas dari produk-produk kami adalah prioritas tertinggi," lanjutnya.

BVO sendiri digunakan dalam minuman rasa buah karena membantu mencegah bahan-bahan lainnya terpisah, sehingga rasa yang dihasilkan pun utuh.

Coca-Cola berniat mengganti BVO dengan sukrosa asetat isobutyrate atau gliserol ester dari rosin yang biasa ditemukan dalam permen karet.

Penggunaan BVO memicu protes karena mengandung unsur bromida yang digunakan dalam flame retardants atau senyawa yang digunakan dalam produksi seperti plastik dan tekstil yang dapat menghambat penyebaran api. Unsur tersebut juga dikhawatirkan dapat menjadi bahan aditif.

Kampenye terhadap penggunaan BVO dicetuskan oleh seorang remaja asa Mississippi Sarah Kavanagh yang mengkritisi dampak kesehatan dari bahan tersebut dalam minuman yang kerap dikonsumsi oleh atlet.

Ia membuat petisi online yang ditandatangai oleh ribuan orang di situs petisi Change.org untuk menyerukan penghapusan BVO.

Sementara itu, menurut peneliti medis di Mayo Clinic, konsumsi minuman ringan mengandung BVO yang berlebihan minuman ringan dapat dikaitan dengan efek negatif negatif seperti kehilangan memori, masalah kulit, serta saraf.

BVO sendiri diakui sebagai bahan yang aman konsumsi sejak tahun 1970 oleh US Food and Drug Administration. [mel]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

UPDATE

Ketum PDIP Tinjau Kantor Baru Megawati Institute

Selasa, 20 Januari 2026 | 22:14

Polisi Bongkar Jaringan Senpi Ilegal Dipakai Begal, Dijual di Facebook Hingga Tokopedia

Selasa, 20 Januari 2026 | 22:09

Bupati Sudewo dan Tiga Kades Kajen Resmi Ditahan, Digiring ke Rutan Pakai Rompi Oranye

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:53

Wapres Gibran Blusukan ke Pasar Borong Daun Bawang

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:48

Istana Rayakan Prestasi Timnas Maroko sebagai Runner-Up Piala Afrika 2025

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:32

Polisi Sudah Periksa 10 Saksi dan Ahli Terkait Pelaporan Pandji Pragiwaksono

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:29

Komisi II Hanya Fokus Revisi UU Pemilu, Bukan Pilkada

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:22

Thomas Djiwandono Mundur dari Gerindra Usai Dicalonkan Jadi Deputi Gubernur BI

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:10

Bupati Pati Sudewo dan Tiga Kades Patok Harga hingga Rp225 Juta per Jabatan Perangkat Desa

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:00

Daftar 28 Perusahaan Sumatera yang Izinnya Dicabut Prabowo

Selasa, 20 Januari 2026 | 20:56

Selengkapnya