Berita

sri mulyani/net

PILPRES 2014

Mustahil PDIP Pasangkan Jokowi dengan Sri Mulyani yang Neolib

JUMAT, 02 MEI 2014 | 08:04 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Sangat mustahil bila PDI Perjuangan mau menjadikan Sri Mulyani, yang saat ini menjabat sebagai Managing Director Bank Dunia, sebagai pendamping Joko Widodo dalam Pilpres 2014.

Keyakinan ini disampaikan anggota Presidium Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi, Bimo Nugraha, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Jumat, 2/5).

"Cawapres Jokowi itu harus bisa jadi partner. Kalau Sri Mulyani tidak bisa, karena ideologinya berbeda. Jokowi ideologi Pancasila, sementara Sri Mulyani ideologi neoliberal," tegas Bimo.


Dengan dasar perbedaan itulah, Bimo yakin PDI Perjuangan tidak akan pernah melirik Sri Mulyani. Apalagi Seknas Jokowi tidak mungkin juga mengusulkan nama mantan Menteri Keuangan yang juga mantan Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSS) yang diduga terlibat dalam skandal Century.

Sudah mafhum, Sri Mulyani selama ini dikenal sebagai penganut dan pelaksana paham liberal yang fanatik dan fundamentalis. Sri Mulyani berkeyakinan sistem liberal atau pasar bebas sangat baik untuk rakyat. Menurutnya, sistem liberal ini akan membebaskan rakyat dari cengkaraman monopoli-monopoli yang bisa menghisap atas nama nasionalisme.

Sementara pihak memasukkan nama Sri Mulyani sebagai generasi baru dari apa yang disebut sebagai Mafia Berkeley. Banyak yang percaya, mafia ini, yang merupakan julukan bagi sekolompok menteri bidang ekonomi dan keuangan pada masa awal pemerintahan Presiden Suharto, masih tetap bercokol dan berpengaruh di era Reformasi. Kelompok ini pun dinilai lebih mengutamakan pasar daripada kepentingan nasional. Mereka dinilai tunduk pada kepentingan asing dan lembaga-lembaga keuangan dunia seperti IMF dan World Bank, daripada berpihak pada kesejahteraan rakyat.

Belakangan, ada kabar kuat, sekelompok orang sedang berpuaya keras menjadikan Sri Mulyani pendamping Jokowi. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kemlu Telusuri Keterlibatan WNI dalam Kasus Online Scam di Malaysia

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:18

Pasar Kripto Lesu, Coinbase Rugi Rp6,8 Triliun

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:09

Syahganda Nainggolan: Ulama Punya Peran Strategis Bangun Gerakan Koperasi Pesantren

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:49

DPR Dorong Perlindungan Hukum dan Kesejahteraan Driver Ojol Lewat Revisi UU LLAJ

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:31

IHSG-Rupiah Tertekan Jelang Akhir Pekan

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:22

Selamat Jalan, James F. Sundah, Legenda Musik yang Berpulang di New York

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:21

Pelapor Dugaan Penggelapan Sertifikat Tanah Mengadu ke Kapolri

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:18

AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Naik Lagi

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:07

Bursa Asia Lemah saat Selat Hormuz Kembali Tegang

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:56

Prabowo Naik Maung ke Pembukaan KTT ke-48 ASEAN di Filipina

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:47

Selengkapnya