. I'll be back. Begitu kata Sri Mulyani saat ditanya waktu akan pindah kantor dari Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, ke 1818 H Street NW, Washington, DC, Amerika Serikat pada Mei 2010.
Sri Mulyani pindah kantor setelah diberhentikan dari jabatan Menteri Kuangan menyusul skandal Century yang mencuat ke publik. Di Washington, Sri Mulyani menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia.
Kalimat I'll be back pun sempat menghiasai situs www.srimulyani.net. Situs ini dibuat oleh beberapa kalangan, yang katanya bersimpati pada pribadi dan pandangan-pandangan Sri Mulyani.
Belakangan muncul gerakan yang mau mengusung Sri Mulyani sebagai capres. Gerakan ini sangat serius sampai mendirikan partai politik, yang bernama Partai SRI, atau Partai Serikat Rakyat Indonesia. Banyak yang percaya, partai ini menampung kelompok yang selama ini disebut kaum soska, atau sosialis kanan yang liberal.
Namun dalam verifikasi partai politik peserta pemilu 2014, Partai SRI gagal menjadi peserta. Partai yang sempat menjadi bahan perbincangan di ibukota dan beberapa kota besar itu tak mampu mengakar hingga ke bawah. Dari sisi pengurusan, partai ini dinilai penyelenggara pemilu tak layak jadi jadi peserta.
Setelah lama kurang terdengar, Sri Mulyani kembali hangat dibicarakan. Jumat besok (2/5), Sri Mulyani akan dihadirkan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan korupsi pemberian FPJP dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik untuk terdakwa Budi Mulya.
Saat skandal ini terjadi pada 2008, Sri Mulyani menjabat Menteri Keuangan sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Kekuangan (KSSK). Bersama Guberbnur Bank Indonesia (BI) saat itu, Boediono, Sri Mulyani dinilai menjadi aktor intelektual dalam kasus yang merugikan keuangan negara sampai Rp 6,7 triliun itu.
Di luar skandal Century, saat ini, Sri Mulyani juga jadi pembicaraan di kalangan terbatas. Pasalnya, saat ini ada gerakan yang mau menyandingkan Sri Mulyani dengan capres PDI Perjuangan, Joko Widodo.
Gerakan untuk memasangkan Sri Mulyani dengan Jokowi ini dimotori oleh dua kelompok.
Kelompok pertama, adalah kelompok ideologis, yang dalam hal ini kelompok liberal. Sudah menjadi mafhum, Sri Mulyani selama ini merupakan penganut dan pelaksana paham liberal yang fanatik dan fundamentalis. Sri Mulyani berkeyakinan sistem liberal atau pasar bebas sangat baik untuk rakyat
"Karena Anda akan membebaskan rakyat dari cengkaraman monopoli-monopoli yang bisa menghisap atas nama nasionalisme," kata Sri Mulyani suatu ketika.
Pernyataan ini sempat menuai kritik tajam karena faktanya, untuk konteks Indonesia, sistem ini semakin membuat jurang ketimpangan kian menganga karena yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Sebab faktanya juga, di tengah pemerintah yang kolutif, rakyat belum benar-benar bisa berdaya untuk bersaing karena ada upaya terstruktur yang secara sistematis memang memiskinkan.
Kembali kepada gerakan untuk mendampingkan Sri Mulyani. Kelompok kedua yang mau menduetkan Sri Mulyani dengan Jokowi adalah kelompok pragmatis. Kelompok ini melihat jarak elektoral Jokowi dan Prabowo yang semakin menipis. Maka untuk meningkatkan elektoral Jokowi, mereka menilai bisa dipenuhi oleh Sri Mulyani, yang apalagi bisa disokong oleh asing.
Apakah gerakan ini akan mengkristalkan tekad Sri Mulyani:
I'll be back. Waktu yang akan menjawabnya.
[ysa]