Berita

Politik

Pembicaraan Mega-SBY Bagus, Asal Tidak Bahas Pengamanan Kasus

RABU, 30 APRIL 2014 | 12:20 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Ajakan komunikasi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Ketua Umum PDI Perjuangan yang juga Presiden RI 2001-2004, Megawati Soekarnoputri, semestinya ditanggapi dengan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara.

Demikian dikatakan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Politik Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama) atau LKPM, Didik Triana Hadi, saat dihubungi beberapa saat lalu (Rabu, 30/4).

"Ini saya lihat sebagai ajakan tulus dari SBY, karena sejak sebelumnya pun SBY sudah buka komunikasi dengan partai dan tokoh nasional lain," kata mantan aktivis mahasiswa ini.


Menurut Didik, SBY dan Mega adalah sesama pemimpin kaliber nasional yang berkualitas. Mereka punya pengaruh cukup kuat di semua elemen nasional.

Dia pun menyarankan, posisi PDIP yang sedang unggul di hasil pemilihan legislatif sebaiknya membuka pintu komunikasi tanpa pandang bulu. Apalagi, pembicaraan yang digagas SBY itu belum tentu berbicara peluang koalisi.

"Lupakan masa lalu, ini bicara untuk kepentingan yang lebih besar," tegasnya.

Mega dan SBY sendiri yang bisa menentukan tema utama komunikasi politik adalah kepentingan bangsa negara. Dengan demiikian citra kedua pemimpin yang "berseteru" itu menjadi pulih kembali di mata rakyat.

"Ini kan baru pembicaraan awal, setelah sepuluh tahun tidak berkomunikasi. Bisa mengarah strategis, tapi yang penting ada keterbukaan dari Mega," ujarnya.

Masih menurut dia, yang harus dihindari adalah pembicaraan yang terburu-buru soal koalisi politik dan bagi-bagi kekuasan. Apalagi, demi pengamanan "kasus-kasus" hukum yang pernah terjadi di masa lalu.

"Kami harapkan pertemuan itu bicara kebangsaan dan bukan politik bagi-bagi kekuasaan atau bicara pengamanan kasus-kasus. Platform kedua partai cocok di pembangunan demokrasi, tapi secara ideologi saya rasa sangat berbeda. Kalau keduanya tidak kedepankan ego, bisa bicarakan kemajuan bangsa," tutup Didik. [ald]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Anies dan KDM Bisa Wassalam Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Senin, 21 September 2026 | 16:22

Keluarga Ikhlas Namun Masih Berharap Lima Wartawan yang Hilang Bisa Pulang

Senin, 21 September 2026 | 16:01

Begini Respons Nusron Ditanya Alasan Mundur dari Kepengurusan Golkar

Senin, 21 September 2026 | 15:53

Turki Siap Kirim Bantuan Militer ke Arab Saudi Jika Terdesak

Senin, 21 September 2026 | 15:47

Bupati Bolmut Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Senin, 21 September 2026 | 15:41

Menkop Dorong Koperasi Sawit Miliki Pabrik CPO Sendiri

Senin, 21 September 2026 | 15:15

Lima Wartawan Hilang saat Liput Anak Krakatau Jadi Pahlawan Pers

Senin, 21 September 2026 | 15:07

Arab Saudi Gempur Yaman 760 Kali, Houthi Ancam Balas Lebih Keras

Senin, 21 September 2026 | 14:56

Dukung Prabowo Kuatkan Sanksi Pelaku Karhutla

Senin, 21 September 2026 | 14:50

Jangan Ukur Keberhasilan Pariwisata Hanya dari Jumlah Wisatawan

Senin, 21 September 2026 | 14:40

Selengkapnya