. Ajakan komunikasi Ketua Umum Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, kepada pimpinan partai lain, dan secara jelas menyebut Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, melalui video Youtube dinilai sementara orang hanya sekedar manuver belaka.
Artinya, dengan kata lain, SBY sejatinya tak benar-benar mau berkomunikasi dengan Megawati.
Sebagai jenderal yang dinilai ahli strategi dan taktik, SBY dinilai menggunakan manuver itu untuk beberapa tujuan.
Tujuan pertama, adalah untuk memecah konsentrasi lawan. Terbukti, setelah ajakan SBY, beberapa elit politisi PDI Perjuangan mengeluarkan beragam pernyataan yang terlihat bertentangan satu sama lain.
Tujuan kedua, menarik simpati publik. Dengan cara ini, SBY kembali melakukan pencitraan bahwa ia sangat terbuka, dan ia adalah orang yang selalu membuka pintu silaturrahmi dengan siapapun. SBY mau dikesankan sebagai negarawan, yang tidak dibatasi oleh sekat politik.
Sambil menarik simpati publik, SBY juga secara tak langsung menohok jantung pertahanan lawan. Ibarat dua tangan, di satu sisi, di
front stage dramaturgi, tangan kanan SBY dijulurkan untuk salaman. Sementara tangan kirinya, di saat bersamaan, di
back stage, melakukan pukulan mematikan.
Maka tujuan ketiga ini, SBY mau merusak citra PDI Perjungan. Bila elit PDI Perjuangan tidak sadar, apapun jawabannya, tentu bisa dinilai negatif oleh publik.
Bila pun ajakan SBY itu direspons positif, maka publik akan menilai PDI Perjuangan, dan juga Megawati, sama saja pragmatis dan bahkan membuka peluang komunikasi kepada orang yang selama 10 tahun berkuasa melalui pengkhianatan. Sikap ini tentu saja bisa membuat mental pemilih fanatik jatuh, dan tidak lagi bersemangat memenangkan Pilpres.
Bila pun direspons secara negatif ajakan komunikasi SBY itu, maka publik pun akan menilai PDI Perjuangan sebagai "partai banteng berkepala batu." PDI Perjuangan akan dinilai sebagai partai yang tidak mau bergotongroyong sebagaimana ajarannya selama ini. Sikap ini akan membuat emosi pemilih baru dan simpatisan baru kembali berbalik arah, dan bisa berubah dalam menjatuhkan pilihan di Pilpres.
Dari sisi ini, maka manuver SBY dinilai berhasil, di tengah elit PDI Perjuangan yang terlihat gagap menjadi juara. Maka tidak ada kata lain bagi elit PDI Perjuangan, melainkan untuk merapatkan barisan sehingga benar-benar solid dan merumuskan strategi untuk melawan taktik SBY yang sulit ditebak dan penuh kejutan ini.
Perlu dicatat, ini baru pukulan pertama SBY setelah kalah di pemilihan legislatif.
[ysa]