Berita

Hukum

Antasari: Keputusan MK Pencerahan Kasus Saya Batal Demi Hukum

KAMIS, 24 APRIL 2014 | 19:58 WIB | LAPORAN:

Mantan Ketua KPK Antasari Azhar senang dengan keputusan Mahkamah Konsitutusi (MK) yang menolak permintaannya tentang  pengujian Pasal 8 ayat (5) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan.

"Itu bagus untuk saya. Itu artinya pemeriksaan jaksa harus izin ke Jaksa Agung. Jadi waktu dulu saya diperiksa diawal sampai saya terdakwa pembunuhan, saya masih jaksa. Tapi tidak ada izin dari Jaksa Agung. Ini artinya pemeriksaan dan penyidikan melanggar Undang-Undang," tegas Antasari usai menghadiri sidang di MK, Jakarta (Kamis, 24/4).

Antasari menegaskan dengan demikian, proses penyelidikan, penyidikan hingga vonis yang diterimanya terkait tuduhan pembunuhan terhadap Nazaruddin Zulkarnain batal demi hukum. Antasari mengaku ini bisa menjadi novum (bukti baru) untuk ajukan Peninjauan Kembali (PK) keduanya nanti.


"Jadi di Pasal 8 itu, segala tindakan kepolisian baik itu penyidikan, penuntutan atau penjemputan paksa terhadap jaksa haru izin jaksa agung. Saya kok engga. Itu lalai apa kesengajaan?" keluh Antasari.

Maka dari itu, MK menurut Antasari memberikan pencerahan apapun kondisinya jika ingin memeriksa jaksa harus izin Jaksa Agung terlebih dahulu. Antasari membeberkan banyak yang mengira saat didirinya dulu ditangkap hanya menjabat ketua KPK saja, bukan jaksa. Padahal dirinya melamar menjadi komisioner KPK sebagai unsur jaksa.

"Itu perintah Jaksa Agung, kalau bukan jaksa saya ga daftar ke KPK, salah besar kalau orang bilang dulu saya mantan jaksa waktu di KPK. Saya diberhentikan jadi jaksa pas sudah masuk lembaga permasyarakatan. Jadi kasus saya batal demi hukum," demikian Antasari>[dem]

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya