Berita

ilustrasi/net

Pemerintahan Indonesia yang Baru Diharap Lebih Aktif Hadapi Isu Korea

RABU, 23 APRIL 2014 | 08:48 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Di balik ketegangan di Semenanjung Korea, masih ada harapan besar Korea Utara dan Korea Selatan bisa bersatu kembali. Pemerintah kedua negara pun masih tak bosan melakukan pembicaraan ke arah penyatuan itu.

Dalam konteks ini pemerintah Indonesia yang baru nanti diharapkan memiliki perhatian yang lebih besar pada isu di Semenanjung Korea, dan berinisiatif mengambil peran kunci dalam pembicaraan damai Korea. Bagaimana pun Indonesia memiliki hubungan yang baik dengan kedua negara sebangsa itu.

"Perpecahan kedua Korea adalah ekses dari Perang Dingin di masa lalu yang tidak dapat dihindarkan. Semestinya dua dekade setelah Perang Dingin berakhir pembicaraan mengenai penghentian perang dan perdamaian positif termasuk reunifikasi Korea jadi lebih mudah dilakukan," ujar Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea, Teguh Santosa, dalam keterangan beberapa waktu lalu (Rabu, 23/40.


Teguh yang baru kembali dari kunjungan ke Pyongyang mengatakan dirinya bertemu dengan ketua baru Perhimpunan Persahabatan Korea-Indonesia di Pyongyang, So Ho Won. Dalam pertemuan itu So menyampaikan ucapan terima kasih atas persahabatan tulus di antara kedua negara selama ini. So juga berharap Indonesia berperan lebih aktif dalam pembicaraan damai Korea.

"Saya yakin Indonesia dapat menjadi  moderator yang baik dalam pembicaraan damai Korea, termasuk menginisiasi kembali Six Party Talk yang membeku," ujar dosen hubungan internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.

Selama ini, sambung Ketua bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat itu, Indonesia memiliki reputasi yang baik di mata dunia internasional sebagai negara demokratis yang mengedepankan proses perdamaian.

"Ini adalah modal besar bagi Indonesia untuk berkiprah dalam isu perdamaian dan penyatuan Korea," demikian Teguh. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kemlu Telusuri Keterlibatan WNI dalam Kasus Online Scam di Malaysia

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:18

Pasar Kripto Lesu, Coinbase Rugi Rp6,8 Triliun

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:09

Syahganda Nainggolan: Ulama Punya Peran Strategis Bangun Gerakan Koperasi Pesantren

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:49

DPR Dorong Perlindungan Hukum dan Kesejahteraan Driver Ojol Lewat Revisi UU LLAJ

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:31

IHSG-Rupiah Tertekan Jelang Akhir Pekan

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:22

Selamat Jalan, James F. Sundah, Legenda Musik yang Berpulang di New York

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:21

Pelapor Dugaan Penggelapan Sertifikat Tanah Mengadu ke Kapolri

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:18

AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Naik Lagi

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:07

Bursa Asia Lemah saat Selat Hormuz Kembali Tegang

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:56

Prabowo Naik Maung ke Pembukaan KTT ke-48 ASEAN di Filipina

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:47

Selengkapnya