Berita

surahman hidayat/net

PKS Minta Kementerian Pendidikan Jaga Etika di Tengah Momentum Politik

SELASA, 22 APRIL 2014 | 06:35 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Total pemilih pemula pada Pilpres mendatang adalah 18.334.458, atau 10 persen dari daftar pemilih tetap 186.569.233 orang.

Mayoritas pemilih pemula itu adalah siswa dan siswi SMA dan sederajat yang mengikuti ujian nasional (UN) beberapa waktu lalu. Secara karakter, pemilih pemula ini  diyakini memilih presiden mendatang atas dasar pertimbangan rasional.

Karena itu, kata anggota Komisi X dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Surahman Hidayat, tidak pantas bila UN dijadikan instrumen rasional untuk menanamkan nilai, membangun mindset dan memengaruhi, apalagi menggiring pilihan politik para pemilih pemula. Pernyataan Surahman ini terkait dengan materi biografi singkat tentang Jokowi, yang merupakan salah satu calon presiden pada Pilpres 9 Juli 2014.


Menurut Surahman, beberapa saat lalu (Selasa, 22/4), kejadian ini dapat mencoreng kredibilitas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai penyelenggara UN. Singkatnya, kredibilitas Kemendikbud dipertaruhkan karena pada Konvensi Ujian Nasional akhir September tahun lalu, dicanangkan penyelenggaraan UN yang bermartabat

"Mengapa dengan konsep kualitas soal UN kelas dunia, bisa muncul materi berbau kampanye dan politik praktis sampai tiga kali dalam lembar soal UN," kata Surahman, sambil mengatakan bila sebenarnya Kemendikbud telah mengadopsi soal-soal berstandar internasional sekelas Programme International Student Assessment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS).

Surahman berasumsi bahwa Kemendikbud  tentu tidak sembarangan menunjuk tim penyusun soal-soal UN. Mereka adalah guru-guru berprestasi, dosen, dan para ahli yang berpengalaman di bidangnya, yang memiliki visi, kredibilitas, dan integritas yang tidak diragukan.

"Kemendikbud harus melakukan investigasi kasus ini untuk mengetahui motif dan memastikan dunia pendidikan benar-benar steril, tidak ditumpangi oleh kepentingan politik tertentu. Kemendikbud juga harus arif menjaga etika dan menyadari momentum politik yang sensitif menjelang pilpres, materi UN tidak berspekulasi politik," demikian Surahman. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kemlu Telusuri Keterlibatan WNI dalam Kasus Online Scam di Malaysia

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:18

Pasar Kripto Lesu, Coinbase Rugi Rp6,8 Triliun

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:09

Syahganda Nainggolan: Ulama Punya Peran Strategis Bangun Gerakan Koperasi Pesantren

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:49

DPR Dorong Perlindungan Hukum dan Kesejahteraan Driver Ojol Lewat Revisi UU LLAJ

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:31

IHSG-Rupiah Tertekan Jelang Akhir Pekan

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:22

Selamat Jalan, James F. Sundah, Legenda Musik yang Berpulang di New York

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:21

Pelapor Dugaan Penggelapan Sertifikat Tanah Mengadu ke Kapolri

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:18

AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Naik Lagi

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:07

Bursa Asia Lemah saat Selat Hormuz Kembali Tegang

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:56

Prabowo Naik Maung ke Pembukaan KTT ke-48 ASEAN di Filipina

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:47

Selengkapnya