Berita

eva sundari/net

HARI KARTINI

Status Perempuan Semakin Memburuk di Era SBY

SENIN, 21 APRIL 2014 | 06:57 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Di tengah peringatan Hari Kartini, perempuan Indonesia seperti terlempar ke belakang akibat kemunduran status perempuan dan anak terkait kejahatan seksual.

Bahkan kejahatan seksual ini, meski sudah dingatkan oleh Komnas Perempuan dan Komisi Perlidungan Anak Indonesia (KPAI) sejak dua tahun lalu, namun hingga kini belum ada terbosan untuk menuntaskannya baik oleh pemerintah maupun masyarakat

Demikian disampaikan anggota Komisi III DPR, Eva Kusuma Sundari. Eva mengingatkan lagi, bila Kartini menuntut hak atas pendidikan bagi perempuan, maka realitas kejahatan seksual saat ini menggugah kesadaran bahwa hak atas rasa aman bagi anak-anak dan perempuan justru menjadi persoalan primer. Para korban kejahatan seksual seperti dalam situasi pembiaran karena kebijakan publik, baik untuk pencegahan maupun penindakan, nyaris tidaka ada.


Saat ini, lanju Eva, hak-hak korban seksual tidak tersedia merata sementara para penegak hukum malah sering justru jadi pelaku kejahatan seksual, atau bersikap membela pelaku kekerasan. Secara kelembagaan pun, polisi belum menunjukkan transformasi kultur sipil sehingga tidak merespon trends menguatnya tindak kejahatan seksual sebagai sesuatu yang serius

Lebih luas, lanjut Eva, sikap pembiaran juga ditunjukkan oleh negara secara sistematis. Hal ini bisa dilihat dari memburuknya human development index terutama gender development index dan gender empowerment measure yang menurun secara signifikan bahkan di bawah Vietnam dan Kamboja.

"Dalam kaitan ini, angka kematian Ibu dan bayi yang memburuk menunjukkan bahwa politik pembanguman Pemerintah SBY selama 10 tahun tidak berperspektif gender dan tidak pro rakyat," sesal Eva beberapa saat lalu (Senin, 21/4).

Menurut Eva, kebijakan tuna keadilan gender ini membuka mata bahwa para perempuan Indonesia masih tertekan dan dipersulit oleh hal-hal yang terkait kebututahn praktis sehinggga menghalangi akses terhada kebutuhan strategis seperti pendidikan dan politik. Dan ini semua merupakan indikator kemunduran serius situasi perempuan Indonesia dalam 10 tahun terakhir ini. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kemlu Telusuri Keterlibatan WNI dalam Kasus Online Scam di Malaysia

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:18

Pasar Kripto Lesu, Coinbase Rugi Rp6,8 Triliun

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:09

Syahganda Nainggolan: Ulama Punya Peran Strategis Bangun Gerakan Koperasi Pesantren

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:49

DPR Dorong Perlindungan Hukum dan Kesejahteraan Driver Ojol Lewat Revisi UU LLAJ

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:31

IHSG-Rupiah Tertekan Jelang Akhir Pekan

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:22

Selamat Jalan, James F. Sundah, Legenda Musik yang Berpulang di New York

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:21

Pelapor Dugaan Penggelapan Sertifikat Tanah Mengadu ke Kapolri

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:18

AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Naik Lagi

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:07

Bursa Asia Lemah saat Selat Hormuz Kembali Tegang

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:56

Prabowo Naik Maung ke Pembukaan KTT ke-48 ASEAN di Filipina

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:47

Selengkapnya