Berita

prabowo subianto/net

Bila Berhasil Acak-acak PPP, Prabowo Pun Bisa Rusak PKS

KAMIS, 17 APRIL 2014 | 12:53 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merupakan partai pertama yang diacak-acak Ketua Dewan Pembina Gerindra, Prabowo Subianto. Bila operasi merusak PPP ini berhasil, maka Prabowo pun akan langsung memburu partai lain, dan yang menjadi target berikutnya adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Demikian prediksi pengamat politik dari Pusat Studi Politik dan Keamanan Universitas Padjajaran, Muradi. Menurut Muradi, prediksi ini bisa dibaca karena kisruh PPP merupakan imbas kehadiran Suryadharma Ali dalam kampanye Gerindra beberapa waktu lalu.

Menurut Muradi, ada empat alasan mengapa SDA berani datang ke acara Gerindra. Pertema, SDA memprediksi suara PPP akan jeblok sehingga harus buru-buru mendekat kepada calon pemenang, yakni Gerindra. Kedua, SDA membaca konstelasi di Gerindra, bahwa Prabowo pasti jadi presiden, dan menafikan keberadaan Jokowi.


Ketiga, lanjut Muradi, ada akumulasi permasalahan di tubuh PPP, seperti perbenturan antara kubu Nahdatul Ulama (NU) dan Permusi yang selama ini memang saling menerkam. Keempat, SDA menafikan ada poros lain di internal partainya yang juga kuat melihat bahwa Prabowo bukan lah calon pemimpin yang tepat untuk dipegang.

SDA, lanjut Muradi, berani mengambil opsi tangan besi karena ada orang Prabowo di dekatnya, yakni Muchdi PR, yang merupakan mantan bawahan Prabowo di Kopassus. Muchdi juga adalah mantan Ketua DPD Gerindra di Papua, yang belakangan pindah dan bahkan sempat mencalonkan diri jadi Ketua Umum PPP.

"Ada anomali dari apa yang dilakukan SDA saat hadir di kampanye Gerindra. Dia berani bermanuver yang sebenarnya bisa menampar muka sendiri. Saya duga karena ada back up politik itu. Dia mendapat garansi, kalaupun bermanuver, dia takkan apa-apa di PPP," ungkap Muradi saat dihubungi wartawan beberapa saat lalu (Kamis, 17/4)

Muradi melanjutkan Prabowo masih memiliki basis purnawirawan dan intelijen yang luar biasa. Contoh Muchdi, merupakan alumni Kopassus, yang kemungkinan besar masih memegang jejaring dari apa yang biasa dia lakukan di masa lalu.

"Saya cenderung langkah ini akan dilakukan bukan hanya di PPP. Kasus di PPP hanyalah milestone. Kalau itu berhasil, bukan tak mungkin ini dilakukan di tempat lain juga," demikian Muradi. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kemlu Telusuri Keterlibatan WNI dalam Kasus Online Scam di Malaysia

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:18

Pasar Kripto Lesu, Coinbase Rugi Rp6,8 Triliun

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:09

Syahganda Nainggolan: Ulama Punya Peran Strategis Bangun Gerakan Koperasi Pesantren

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:49

DPR Dorong Perlindungan Hukum dan Kesejahteraan Driver Ojol Lewat Revisi UU LLAJ

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:31

IHSG-Rupiah Tertekan Jelang Akhir Pekan

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:22

Selamat Jalan, James F. Sundah, Legenda Musik yang Berpulang di New York

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:21

Pelapor Dugaan Penggelapan Sertifikat Tanah Mengadu ke Kapolri

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:18

AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Naik Lagi

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:07

Bursa Asia Lemah saat Selat Hormuz Kembali Tegang

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:56

Prabowo Naik Maung ke Pembukaan KTT ke-48 ASEAN di Filipina

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:47

Selengkapnya