Berita

ilustrasi/net

Media Harus Obyektif dan Tidak Jadi Kaki Tangan Sang Pemilik

KAMIS, 17 APRIL 2014 | 07:28 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Belakangan ini terlihat jelas ada beberapa media yang mengobarkan jurnalisme "caci maki". Kebijaksanaan rezim SBY yang tidak menguntungkan kelompok afiliasi media misalnya, pasti dihantam grup media tersebut. Uniknya lagi, ketika pemilik media yang bersangkutan maju di Pilpres, kelompok media yang dimilikinya sepakat menyerang capres lain.  

Hal-hal positif yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo misalnya, selalu dilihat nyinyir. Demikian juga dengan calon presiden dari Gerindra, Prabowo Subianto selalu disasar masa lalunya," kata pengajar ilmu komunikasi di Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Ari Junaedi, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 17/4).

Menurut Ari Junaedi, yang juga dosen S2 di Universitas Persada Indonesia (UPI YAI) Jakarta dan Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya ini, pers masa kini sudah mulai meninggalkan pemberitaan yang berimbang apalagi obyektif. Pers di era sekarang sudah beralih sebagai kaki tangan pemilik media, seperti dalam kasus laman Viva.co.id


"Bahkan ada media menyediakan pemberitaannya untuk memuji setinggi langit atau menjatuhkan lawan sesuai asas wani piro. Fenomena ini yang saya sebut pers berada di tubir yang membahayakan. Media sedang membunuh dirinya sendiri," jelas peraih penghargaan World Customs Organization Sertificate of Merit 2014 karena pola pengajaran komunikasinya yang sangat inspiratif.

Namun dari perkiraan peneliti masalah transformasi identitas dan pola komunikasi pelarian politik tragedi 1965 di mancanegara ini, pembaca sudah mulai bijak dengan memilah dan memilih media mana yang partisan dan media mana yang obyektif.

"Cermati saja apakah Koran Jurnas setelah Pak SBY tidak menjadi presiden apakah tetap terbit atau malah gulung tikar. TVOne dan Antv kenapa selalu memuja ARB tapi tidak pernah memberitakan derita masyarakat korban lumpur Lapindo. Apakah ada perubahan pola pemberitaan Koran Sindo usai HT dan Hanura  kalah berlaga di Pemilu kemarin. Inilah wajah media kita yang oportunis," demikian Ari Junaedi. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kemlu Telusuri Keterlibatan WNI dalam Kasus Online Scam di Malaysia

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:18

Pasar Kripto Lesu, Coinbase Rugi Rp6,8 Triliun

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:09

Syahganda Nainggolan: Ulama Punya Peran Strategis Bangun Gerakan Koperasi Pesantren

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:49

DPR Dorong Perlindungan Hukum dan Kesejahteraan Driver Ojol Lewat Revisi UU LLAJ

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:31

IHSG-Rupiah Tertekan Jelang Akhir Pekan

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:22

Selamat Jalan, James F. Sundah, Legenda Musik yang Berpulang di New York

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:21

Pelapor Dugaan Penggelapan Sertifikat Tanah Mengadu ke Kapolri

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:18

AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Naik Lagi

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:07

Bursa Asia Lemah saat Selat Hormuz Kembali Tegang

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:56

Prabowo Naik Maung ke Pembukaan KTT ke-48 ASEAN di Filipina

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:47

Selengkapnya