Dalam hitungan cepat Pileg 2014 kemarin, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memporeleh suara tertinggi dibandingkan empat partai Islam lainnya, PAN, PKS, PPP dan PBB.
Kabar yang berkembang, PKB dengan PDIP dan Nasdem sedang melakukan komunikasi politik untuk menjalin koalisi di Pilpres 9 Juli nanti. Tidak tanggung-tanggung, beberapa nama pasangan sudah disebut-sebut, salah satunya adalah Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Melihat manuver PKB tersebut, sepertinya PKS tidak nyaman. Anggota Majelis Syuro PKS Refrizal masih berharap partai yang dipimpin Muhaimin Iskandar itu bisa bergabung dalam koalisi partai Islam plus Gerindra, seperti yang ia harapkan.
"Mudah-mudahan PKB bisa mendahulukan kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan ummat dan bangsa," kata Refrizal kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu, Jumat (11/4).
Sebelumnya Refrizal berharap, partai berbasis Islam bisa bersatu mengusung pasangan capres dan cawapres. Tidak hanya partai Islam, ia menambahkan, perlu ada satu partai nasionalis yang ikut bergabung. "Saya setuju koalisi partai Islam plus. Misalnya plus Gerindra," ujarnya.
Menurutnya, jika ini terwujud maka akan menjadi koalisi strategis untuk kepentingan bangsa dan negara. "Koalisinya dibangun dengan semangat kebersamaan untuk membangun bangsa, bukan untuk kepentingan golongan dan kelompok," terangnya.
Anggota DPR ini yakin, kalau koalisi partai Islam plus Gerindra bisa terwujud, koalisi ini sangat strategis. "Indonesia mayoritas penduduknya adalah Islam, dan ummat Islam sangat mudah menentukan pilihannya.
Wallahu'alam," ungkapnya.
Menguatkan koalisi ini, lanjut Refrizal, ormas-ormas besar Islam di Tanah Air seperti NU, Muhammadiyah, Persis dan PUI harus mendukung. "Partai-partai Islam sudah lebih 31 persen, apalagi ditambah dengan salah satu partai nasionalis," tandasnya.
Hasil
quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI) kemarin, suara lima partai berbasis Islam; PKB, PAN, PKS, PPP dan PBB cukup signifiknan. Berikut hasil akhir selengkapnya; PDI Perjuangan 19,77 persen, Golkar 14,61 persen, Gerindra 11,80 persen, Demokrat 9,73 persen, PKB 9,07 persen, PAN 7,47 persen, PPP 7,08 persen, PKS 6,61 persen, Nasdem 6,24 persen, Hanura 5,26 persen, PBB 1,36 persen, dan PKPI 0,97 persen.
[rus]