Rusia dan negara-negara Barat kerap berselisih atau bertentangan dalam menanggapi sejumlah isu internasional. Hal tersebut terjadi karena Rusia memiliki visi yang sangat berbeda dengan negara-negara Barat.
Hal itu dinyatakan oleh seorang senator atau anggota Dewan Federasi Rusia Andrey Klimov dalam sebuah wawancara dengan CNN (Kamis, 10/4).
"Tentu saja seseorang dari negara-negara Barat mungkin lebih suka hanya melihat hal buruk dari Rusia," kata Klimov.
"Namun situasinya sangat berbeda," lanjutnya.
Rusia, menurutnya, berpikir tentang penyelesaian damai dari situasi yang ada, seperti yang sekarang terjadi di Ukraina.
Menanggapi gerakan protes yang terjadi di timur Ukraina sepekan terakhir di mana pengunjuk rasa pro-Rusia menuntut referendum serupa seperti yang dilakukan Krimea untuk melepaskan diri dari Ukraina, Klimov menegaskan bahwa pihaknya memandang Ukraina sebagai tetangga.
Klimov juga menyebut bahwa Rusia telah lama menyerukan grakan non-intervensi di negara-negara berdaulat. Namun ia menekankan fakta bahwa Ukraina tidak memiliki sejarah panjang sebagai negara yang berdaulat.
Terkait keputusan Rusia untuk menganeksasi Krimea pasca melepaskan diri dari Ukraina, Klimov menyebut bahwa itu merupakan kasus yang unik.
"Tentu saja kami mengakui integritas teritorial Ukraina," katanya.
"Namun bila kita bicara tentang situasi hari ini, tentu kita harus melihat sejarah," lanjutnya.
Ia menekankan sejarah Ukraina yang merupakan negara yang belum berdaulat untuk jangka waktu yang lama. Ukraina baru menjadi negara berdaulat kurang dari 20 tahun terakhir. Itu berarti Ukraina masih merupakan negara yang 'muda'.
Oleh karena itu, Klimov menjelaskan bahwa Rusia ingin Ukraina sebagai negara 'muda' mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. "Tanpa ada tekanan dari luar, termasuk tekanan dari dunia Barat," tegasnya.
Gerakan protes yang muncul di Ukraina beberapa waktu terakir disebut Klinov merupakan hasil provokasi baik dari negara-negara Barat maupun politisi Ukraina.
"Beberapa orang Barat, termasuk orang dari gedung Putih, mereka mencoba menyalahkan Rusia tapi tidak mau melihat urusannya sendiri," jelanya.
Ia juga menyebut bahwa dalam sejumlah aksi unjuk rasa di Ukraina seperti yang pernah terjadi secara besar-besaran di Maidan Square, sejumlah otoritas Amerika Serikat dan Uni Eropa kerap terlibat di dalamnya.
"Diplomat kami, senator kami, anggota parlemen kami tidak pernah berada di sana," tegasnya.
[mel]