Setelah hampir sebulan terakhir melakukan pencarian badan pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370, tim investigasi Australia hari ini (Senin, 7/4) menemukan tanda yang disebut sebagai tanda yang paling menjanjikan dari pencarian tersebut.
Sebuah alat penangkap sinyal atau pinger locator yang digunakan dalam pencarian pesawat di Samudera Hindia mendeteksi adanya sinyal konsisten yang dipancarkan oleh perekam data penerbangan dan perekam suara di kokpit atau blackbox.
Hal tersebut dikonfirmasi oleh badan koordinasi pencarian Australia yang menyebut bahwa sinyal tersebut ditangkap dari kedalaman 4.500 meter di bawah permukaan laut.
"Kami mendapatkan indikasi visual di layar dan kami juga mendapatkan sinyal yang dapat didengar. Dan sinyal tersebut terdengar seperi sebuah rambu pendeteksi lokasi darurat," kata pensiunan marsekal udara yang tergabung dalam tim investigasi, Angus Houston.
Namun ia menjelaskan bahwa butuh waktu beberapa hari sebelum otoritas setempat mengkonfirmasi apakah sinyal tersebut memang berasal dari pesawat yang hilang sejak 8 Maret lalu atau bukan.
"Dalam perairan samudera yang begitu dalam, tidak ada yang tersejadi cepat," kata Houston.
"Saya akan meminta anda semua untuk memperlakukan informasi ini dengan hati-hati dan bertanggung jawab, kami belum menemukan pesawat," lanjutnya.
Ketika pencarian berkejaran dengan waktu, mengingat daya tahan baterai pada blackbox untuk terus mengirimkan sinyal hampir habis, sebuah misteri baru muncul mengenai apa yang terjadi selama penerbangan.
Pada Minggu (6/4) seperti dilansir
CNN, seorang pejabat senior Malaysia menyebut bahwa pesawat yang mengangkut total 239 penumpang itu diketahui mengitari wilayah udara Indonesia dan menyimpang dari jalur seharusnya pada hari di mana pesawat hilang.
Hal tersebut menyusul peninjauan radar track data dari negara-negara tetangga yang memunculkan hasil bahwa pesawat diketahui sempat melengkung ke arah utara dari Indonesia sebelum akhirnya berbelok ke selatan menuju Samudera Hindia bagian Selatan.
[mel]