Berita

genosida rwanda/reuters

Dunia

Rayakan 20 Tahun Genosida, Rwanda Mulai Minggu Berkabung

SENIN, 07 APRIL 2014 | 10:22 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Hari ini (Senin, 20/4) warga Rwanda resmi memulai minggu berkabung selama 100 hari kedepan untuk memperingati 20 tahun peristiwa genosida yang terjadi di negara tersebut.

Minggu berkabung tersebut juga ditandai dengan dinyalakannya obor oleh Presiden Rwanda Paul Kagame. Obor tersebut akan terus menyala selama 100 hari kedepan, sesuai dengan lama hari genosida berlangsung.

Peristiwa genosida antara suku mayoritas-minoritas itu terjadi di Rwanda pada tahun 1994 silam. Pada saat itu terdapat sekitar 800 ribu warga Rwanda yang tewas. Sebagian besar berasal dari etnis Tutsi, sementara korban tewas lainnya merupakan etnis Hutu dan sejumlah korban lainnya merupakan pemimpin umat kristiani ataupun peasukan penjaga perdamaian PBB.


Mayoritas korban, tewas akibat diserang dengan parang atau senjata tajam lainnya pada pembantaian yang terjadi selama 100 hari, mulai 6 April hingga Juli 1994.

Pembantaian tersebut terjadi tak lama setelah Presiden Rwanda saat itu, Juvenal Habyarimana yang berasal dari suku Hutu tewas akibat pesawat yang tengah ditumpanginya ditembak jatuh di Kigali, ibukota Rwanda.

Pembantaian baru berhenti ketika gerakan pemberontakan yang dipimpin oleh suku Tutsi yakni Front Patriotik Rwanda memasuki negara tersebut dari perbatasan Uganda kemudian berbaris di Kigali untuk merebut kekuasaan.

Minggu berkabung sendiri akan dimulai hari ini dengan upacara peletakan karangan bunga di memorial genosida nasional yang diikuti dengan penyalaan api di Amahoro Stadium Kigali.

Sejumlah pemimpin internasional, seperti dikabarkan BBC, seperti mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki dan Sekjen PBB Ban Ki-mon dijadwalkan akan hadir dalam upacara hari ini.

Sementara itu, Prancis menegaskan tidak akan memboikot dan akan mengirim duta besarnya untuk ikut merayakan minggu berkabung tersebut.

Diketahui, hubungan kedua negara mendapat ganjalan terutama selatah Rwanda menuding Prancis memiliki peran langsung dalam genosida tahun 1994 lalu. Hal tersebut diperkuat dengan fakta yang dilansri komisi Rwanda pada tahun 2008 yang menyebut bahwa Paris mengetahui persiapan genosida dan membantu melatih etnis mititan Hutu yang ikut dalam pembantaian.

Kisah pembantaian di Rwanda tersebut sempat diangkat dalam sebuah film berjudul Hotel Rwanda pada tahun 2004 lalu. [mel]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

UPDATE

Waspada Pemutihan Lahan Sawit Ilegal Secara Massal!

Rabu, 21 Januari 2026 | 07:48

Pertemuan Eggi-Damai Lubis dengan Jokowi Disebut Diplomasi Tingkat Tinggi

Rabu, 21 Januari 2026 | 07:23

Sudewo Juga Tersangka Suap Jalur Kereta Api, Kasus Pemerasan Jadi Pintu Masuk

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:52

Damai Lubis Merasa Serba Salah Usai Bertemu Jokowi dan Terima SP3

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:52

Putusan MK 234 Koreksi Sikap Polri dan Pemerintah soal Polisi Isi Jabatan Sipil

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:48

Khofifah: Jawa Timur Siap jadi Lumbung Talenta Digital Nasional

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:25

The Game Changer Kedua

Rabu, 21 Januari 2026 | 05:59

Persiden Cabut Izin 28 Perusahaan, Kinerja Kemenhut Harus Tetap Dievaluasi

Rabu, 21 Januari 2026 | 05:45

Evakuasi Korban Pesawat Jatuh

Rabu, 21 Januari 2026 | 05:20

Pemerintah Diminta Perbaiki Jalan Rusak di Akses Vital Logistik

Rabu, 21 Januari 2026 | 04:59

Selengkapnya