Berita

obama/net

KRISIS UKRAINA

Obama Ancam Rusia dengan Sanksi yang Lebih Keras

KAMIS, 27 MARET 2014 | 10:10 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

. Presiden Amerika Serikat Barack Obama memperingatkan Rusia akan adanya sanksi lebih keras bila Rusia tidak membuat perubahan dalam kebijakannya terkait situasi di Ukraina, terutama menyangkut Krimea.

Obama menyebut bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah salah perhitungan bila menganggap bahwa ia dapat memecah-belah negara-negara Barat dan mengandalkan ketidakpedulian dunia terkait aneksasi Rusia terhadap Krimea.

"Bila ada dalam kepemimpinan Rusia yang berpikir bahwa dunia tidak akan peduli dengan tindakan mereka di Ukraina atau bahwa mereka bisa mendorong ganjalan antara Uni Eropa dan Amerika Serikat, mereka salah perhitungan," kata Obama ketika berbicara pada KTT Uni Eropa-AS di Brussel, Belgia, sebagaimana dilansir Reuters pada Rabu (26/3).


Obama menyebut bahwa Amerika Serikat dan Uni Eropa telah bersatu dalam menyuarakan dukungan bagi Ukraina, termasuk untuk memenuhi bantuan ekonomi dan dalam upaya mereka mengisolasi Rusia yang dinilai telah mengintevensi Krimea.

Lebih lanjut Obama memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan Uni Eropa sepakat untuk bekerja sama mempersiapkan sanksi ekonomi yang lebih ketat terhadap Rusia bila tidak juga mengubak sikap dan kebijakannya. Sanksi ekonomi tersebut mencakup sektor energi serta upaya agar negara-negara Eropa mengurangi ketergantungan gas pada Rusia.

Obama menyebut bahwa pemimpin tujuh negara industri kekuatan dunia atau dikenal dengan istilah Group of Seven (G7) telah sepakat untuk menerapkan sanksi ekonomi Rusia pada minggu ini kecuali bila Putin mengubah sikap terhadap Ukraina.

"Bila Rusia melanjutkan masalah saat ini, bagaimanapun, isolasi akan menjadi lebih dalam, sanksi akan ditingkatkan dan akan ada konsekuensi lebih bagi ekonomi Rusia," kata Obama dalam konferensi pers yang digelar bersama dengan Presiden Dewan Eropa Herman Van Rompuy dan Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso.

Ia menegaskan bahwa negara-negara Barat akan tetap bersatu untuk mendukung Ukraina, bukan dengan tindakan militer, melainkan dengan kekuatan nilai-nilai perekonomian. [ysa]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

UPDATE

Waspada Pemutihan Lahan Sawit Ilegal Secara Massal!

Rabu, 21 Januari 2026 | 07:48

Pertemuan Eggi-Damai Lubis dengan Jokowi Disebut Diplomasi Tingkat Tinggi

Rabu, 21 Januari 2026 | 07:23

Sudewo Juga Tersangka Suap Jalur Kereta Api, Kasus Pemerasan Jadi Pintu Masuk

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:52

Damai Lubis Merasa Serba Salah Usai Bertemu Jokowi dan Terima SP3

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:52

Putusan MK 234 Koreksi Sikap Polri dan Pemerintah soal Polisi Isi Jabatan Sipil

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:48

Khofifah: Jawa Timur Siap jadi Lumbung Talenta Digital Nasional

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:25

The Game Changer Kedua

Rabu, 21 Januari 2026 | 05:59

Persiden Cabut Izin 28 Perusahaan, Kinerja Kemenhut Harus Tetap Dievaluasi

Rabu, 21 Januari 2026 | 05:45

Evakuasi Korban Pesawat Jatuh

Rabu, 21 Januari 2026 | 05:20

Pemerintah Diminta Perbaiki Jalan Rusak di Akses Vital Logistik

Rabu, 21 Januari 2026 | 04:59

Selengkapnya