Berita

Ribka Tjiptaning

Wawancara

WAWANCARA

Biarkan Orang Lain Mencibir, Kami Bantu Satinah Secara Tulus

KAMIS, 27 MARET 2014 | 09:43 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Capres PDI Perjuangan Jokowi  menyumbang TKI Satinah murni karena perasaan solidaritas. Tidak bermaksud mencari simpati publik demi kepentingan politik.

“Biarkan orang lain’mencibir kami. Silakan menilai apa saja. Yang penting kami membantu Satinah secara tulus,’’ kata Ketua Komisi IX DPR yang juga politisi PDI Perjuangan,  Ribka Tjiptaning, kepada Rakyat Merdeka yang dihubungi via telepon, kemarin.

Seperti diketahui, Jokowi menyumbang untuk Satinah agar tidak dihukum pancung di Arab Saudi. Di hadapan wartawan, kamarin, hanya menyumbang Rp 10.000.


Tapi menurut anggota DPR dari PDI Perjuangan Rieke Dyah Pitaloka yang berkunjung ke Balaikota mengatakan, Jokowi telah menyumbang Satinah dengan memperlihatkan amplop.

Langkah ini dinilai sebagai upaya mencari simpati publik demi kepentingan politik.

Ribka Tjiptaning selanjutnya mengatakan, PDI Perjuangan ikhlas membantu Satinah agar tidak dihukum pancung di Arab Saudi. Tidak ada kepentingan pencitraan atau mencari simpati publik demi kepentingan politik.

“Kami membantu berdasarkan rasa solidaritas antar sesama manusia. Kami ikhlas membantu Satinah,’’ ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya;

Apa gerakan bantuan ini solusi?
Untuk kasus Satinah, ya. Ini mendesak dilakukan agar Satinah tidak dihukum pancung bila membayar diyat sebesar Rp 21 miliar kepada keluarga korban. Tapi untuk jangka panjang, ini bukan solusi. Pemerintah perlu mencari cara agar kasus serupa tidak terulang.
 
Bukankah dengan lobi-lobi pemerintah saja bisa menyelamatkan Satinah?
Seharusnya bisa diselamatkan. Pemerintah bisa mencontoh langkah  Gus Dur saat menjadi presiden  yang mau  menemui Raja Arab untuk menyelamatkan TKI, dan saat itu berhasil.

Pemerintah juga harus turun tangan langsung, sehingga  bisa menurunkan uang diyat atau meringankan hukuman. Pemerintah jangan hanya mengirim surat saja. Tapi perlu langkah konkrit.
 
Uang diyat untuk meyelamatkan Satinah kurang Rp 9 miliar lagi, bisakah pemerintah menyanggupi itu?
Pemerintah harus mampu menyelamatkan nyawa rakyatnya yang sedang terancam. Undang-undang menyatakan, tanggung jawab negara untuk memberikan rasa aman dan nyaman terhadap rakyatnya yang bekerja di dalam maupun luar negeri.   
 
Bukankah ada asuransi konsorsium yang memberikan perlindungan terhadap TKI?
Lebih baik konsorsium itu dibubarkan saja. Keberadaannya tidak membantu TKI.  Bikin saja lembaga baru yang lebih komprehensif.  Lembaga yang ada saat ini tidak bekerja untuk membantu TKI. Apa lagi saat pembentukan konsorsium tersebut,  tidak melibatkan Komisi IX DPR sebagai mitranya. Ada dugaan ketidakberesan atau monopoli dalam sistem konsorsium.

Bagaimana solusi agar kasus Satinah tidak menimpa TKI lainnya?
Pemerintah harus  menghentikan pengiriman TKI ke Arab Saudi dan Malaysia. Sebab, di dua negara tersebut banyak TKI  tersandung masalah. Tapi pemerintah tidak pernah sanggup  mengatasinya. Perjanjian kerja sama dengan Malaysia saja tidak pernah selesai.

Pemerintah berdalih, pengangguran bertambah bila dihentikan pengiriman TKI ke luar negeri, ini bagaimana?
Ini semua tergantung niat pemerintah. Apakah serius atau tidak untuk membuka lapangan pekerjaan di dalam negeri. Kalau mau, tentu bisa.

TKI sepertinya dijadikan komoditas, tanggapan Anda?

TKI memang dijadikan komoditas. Ini bisnis menggiurkan. Mulai dari antar jemput, tempat penampungan TKI, proses administrasi keberangkatan. Semua ada uangnya. Maka banyak yang berebut untuk bermain di bisnis TKI ini.  ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Main di Kandang PSIM, Persija Menang Telak 4-0

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:49

Cukai MBDK Mulai Dipungut Semester II/2027, Target Rp1,7 Triliun

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:30

DPR Ingatkan Bijak di Ruang Digital dan Cegah Perundungan Siber

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:51

Ekspor Emas Anjlok, Bea Cukai Ungkap Perusahaan Tahan Pengiriman

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:38

Usai Dilantik, Kapolda Metro Jaya Serap Aspirasi Insan Pers

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:49

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di MotoGP Mandalika

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:30

Tegas dan Loyal, Demokrat: Tidak Ada Nama Selain Prabowo untuk Kontestasi 2029

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:36

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

YLBHI Minta Polresta Solo Hentikan Dugaan Kriminalisasi Kasus Perdata jadi Pidana

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36

Pertamina Perkuat Pengelolaan Sampah Mandalika Lewat Dukungan untuk Bank Sampah Putri Nyale

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:09

Selengkapnya