Berita

NATO: Pasukan Rusia di Perbatasan Ukraina Ancam Trans-Dniester

SENIN, 24 MARET 2014 | 10:38 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Komandan militer NATO di Eropa, Gen Philip Breedlove, mengeluarkan peringatan atas pengerahan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina.

Ia menilai bahwa pasukan Rusia tersebut memicu kekhawatiran dan ancaman bagi wilayah Trans-Dniester.

"Ada kekuatan yang benar-benar cukup mengambil sikap di perbatasan timur Ukraina untuk lari ke Trans-Dniester bila keputusan telah dibuat untuk melakukan hal tersebut, dan itu sangat mengkhawatirkan," kata Breedlove dalam sebuah acara di Brussel seperti dilansir BBC pada Senin (24/3).


"Rusia bertindak lebih seperti musuh dari rekan," lanjutnya.

Trans-Dniester atau disebut juga Transnistria merupakan wilayah yang berada di lanjut dataran antara sungai Dniester dan perbatasan Moldova timur dengan Ukraina.

Sejak mendeklarasikan kemerdekaan pada tahun 1990 dari Moldova, wilayah tersebut dikenal sebagai negara Pridnestrovian Moldavian Republic (PMR) yang juga dikenal sebagai Pridnestrovie. Namun kemerdekaanya tidak diakui oleh satupun negara anggota PBB.

Trans-Dniester saat ini dianggap sebagai wilayah otonomi dengan status hukum khusus oleh Republik Moldova.

Sejak Krimea memilih bergabung dengan Rusia, Trans-Dniester telah mengirimkan permintaan untuk juga bergabung dengan Federasi Rusia.

Sementara itu, menanggapi pengerahan pasukannya di perbatasan Ukraina, Rusia menyebut bahwa hal tersebut telah sesuai dengan perjanjian internasional.

Pengerahan tersebut dilakukan menyusul aneksasi Rusia terhadap Krimea dari Ukraina yang dilakukan sejak pertengahan bulan ini.

Di sisi lain, Perdana Menteri Ukraina, Andriy Deshchytsia memperingatkan bahwa risiko perang dengan Rusia telah meningkat.

"Malasah dengan Putin adalah bahwa ia tidak ingin menggelar pembicaraan, bukan hanya dengan pemerintah Ukraina, namun juga dengan pemimpin negara-negara barat," kata Deshchytsia seperti dilansir BBC pada Senin (24/3).

"Dan ini cukup berbahaya bagi proses pengambilan keputusan. Kami hanya bisa memperkirakan bahwa ia bisa melakukan invasi," tandasnya. [zul]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Bukti cuma Sarjana Muda, Kok Jokowi Bergelar Sarjana Penuh

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:00

UPDATE

Waspada Pemutihan Lahan Sawit Ilegal Secara Massal!

Rabu, 21 Januari 2026 | 07:48

Pertemuan Eggi-Damai Lubis dengan Jokowi Disebut Diplomasi Tingkat Tinggi

Rabu, 21 Januari 2026 | 07:23

Sudewo Juga Tersangka Suap Jalur Kereta Api, Kasus Pemerasan Jadi Pintu Masuk

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:52

Damai Lubis Merasa Serba Salah Usai Bertemu Jokowi dan Terima SP3

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:52

Putusan MK 234 Koreksi Sikap Polri dan Pemerintah soal Polisi Isi Jabatan Sipil

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:48

Khofifah: Jawa Timur Siap jadi Lumbung Talenta Digital Nasional

Rabu, 21 Januari 2026 | 06:25

The Game Changer Kedua

Rabu, 21 Januari 2026 | 05:59

Persiden Cabut Izin 28 Perusahaan, Kinerja Kemenhut Harus Tetap Dievaluasi

Rabu, 21 Januari 2026 | 05:45

Evakuasi Korban Pesawat Jatuh

Rabu, 21 Januari 2026 | 05:20

Pemerintah Diminta Perbaiki Jalan Rusak di Akses Vital Logistik

Rabu, 21 Januari 2026 | 04:59

Selengkapnya