. Ketegangan antara Israel dan Suriah semakin meningkat menyusul serangan bom yang terjadi di dataran tinggi Golan, dekat dengan perbatasan Suriah, Selasa (18/3).
Dalam insiden tersebut, empat orang pasukan Israel terluka ketika sebuah bom tiba-tiba meledak di jalan dekat mobil patroli pasukan Israel di dataran tinggi Golan. Pihak Israel menuding bahwa serangan tersebut dilakukan oleh pemerintah Suriah.
Menyusul hal tersebut, Israel mengeluarkan peringatan kepada pemerintah Suriah bahwa setiap agresi terhadap warga Israel akan berhadapan dengan pasukannya.
Pada pertemuan kabinet pada Rabu (19/3), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa serangan tersebut bukan hanya difasilitasi, namun juga hasil kerjasama dengan pemerintah Suriah.
"Kebijakan kami sangat jelas, kami menyerang siapa yang menyerang kami," tegasnya seperti dilansir
CNN.
Menanggapi insiden ledakan bom tersebut, pasukan Israel membalas dengan serangan artileri yang menargetkan militer Suriah di perbatasan.
"Kami tidak akan mentolerir setiap pelanggaran kepada kedaulatan kami serta serangan terhadap tentara dan warga sipil kami," kata Menteri Pertahanan Israel, Moshe Ya'alon.
Ia menuding bahwa pemerintahan Presiden Bashar al-Assad bertanggungjawab atas serangan tersebut.
"Kami melihat rezim Assad bertanggungjawab atas apa yang terjadi di wilayahnya, dan bila terus bekerjasama dengan organisasi terorisme yang mencoba menyerang Israel, kami membuat ia (Assad) membayar dengan harga tinggi," lanjutnya.
Sementara itu pernyataan dari komando militer Suriah menyebut bahwa serangan udara yang dilayangkan oleh Israel telah menewaskan satu tentara dan melukai tujuh lainnya di wilayah Quneitra. Quneitra adalah satu-satunya titik akses antara Suriah dan Israel.
Pernyataan tersebut juga mengatakan bahwa artileri, tank, serta sejumlah perangkat militer Israel lainnya yang dikerahkan di dekat desa Seheit juga menyebabkan sejumlah kerusakan. Militer Suriah juga menuding bahwa Israel telah melanggar perjanjian tahun 1974 yang dibuat oleh kedua negara melalui tekanan menggunakan dalih terorisme kepada Suriah.
[rus]