Berita

prabowo subianto/net

Prabowo Ingin Gabungkan Kapitalisme dan Sosialisme

MINGGU, 16 MARET 2014 | 20:47 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Prabowo Subianto punya pandangan sendiri mengenai perdebatan dua arus utama pemikiran ekonomi. Dia tidak mau mempertentangkan kapitalisme dan sosialisme. Sebaliknya, ia ingin menggabungkan dua paham yang sepintas berseberangan itu.

Sebetulnya sikap dan cara pandang yang tidak ingin mempertentangkan kedua paham itu bukan hal baru. Pendekatan yang disebut sebagai jalan ketiga ini telah diperkenalkan oleh antara ekonom Inggris Anthony Giddens dalam salah satu karyanya sekitar dua dekade lalu.

"Saya ingin menggabungkan sifat-sifat terbaik dari kapitalisme dan sosialisme. Kita tidak boleh menentang kreatifitas dan inovasi. Tetapi di saat yang sama kita harus melindungi rakyat yang masih lemah," demikian antara lain disampaikan Prabowo Subianto ketika menjelaskan jalan pikiran ekonominya dalam silaturahmi dengan pimpinan media massa Jawa Pos Gorup di Bojong Koneng, Bogor, Sabtu siang (15/3).


Dia menilai, banyak pejabat negara terutama yang otoritatif di bidang kebijakan ekonomi, kebablasan dan tersesat dalam memahami kapitalisme.

Di tahun 2005, sebutnya, ada banyak artikel yang memuji-muji neoliberalisme, tetapi melupakan esensi kewajiban negara melindungi masyarakat.

Dalam sebuah pertemuan dengan pejabat tinggi di Kementerian Keuangan ketika itu, Prabowo sempat dipandang sebelah mata dan dianggap tidak memahami urusan ekonomi.

Sang pejabat tinggi itu kira-kira berkata seperti ini:

"Kalau petani kita tidak bisa bersaing dengan petani asing, kita tidak bisa apa-apa."

Menurut Prabowo, pernyataan seperti itu yang keluar dari mulut seorang pejabat, sangat tidak pantas. Bagaimana mungkin sang pejabat tinggi mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi petani, sementara negara seharusnya berkewajiban melindungi semua rakyatnya.

"Padahal kita mengerti bahwa petani Australia dan Amerika Serikat juga dilindungi dan diberi subsidi. Dibantu dengan kredit sangat murah. Alat-alat pertanian mendapatkan kredit hingga 30 tahun di negara-negara itu. Di AS kelebihan produksi susu dibeli pemerintah. Lalu, pemerintah AS memberikan kredit ekspor selama 3 tahun," urai Prabowo memberi contoh.

"Tapi kok kita tidak boleh membantu petani kita," ujarnya lagi dengan nada berapi-api.

Menurut Prabowo, dirinya juga diledek sebagai orang yang tidak memahami ekonomi kerakyatan.

Dia pernah mengirimkan sebuah artikel dalam bahasa Inggris mengenai pokok-pokok pikiran ekonomi kerakyatan yang diyakininya. Tetapi, harian yang dikiriminya itu hanya mengutip tiga kalimat.

Salah satu pertanyaan yang diajukan kepada Prabowo dalam silaturahmi itu mengenai isi Pasal 33 UUD 1945 yang setelah diamandemen di tahun 2001 mendapatkan ayat tambahan yang oleh sementara kalangan ekonom dianggap sebagai pintu masuk neoliberalisme atau penguasaan pihak asing terhadap cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak juga bumi, air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya.

Tiga "ayat asli" dalam Pasal 33 itu berbunyi demikian:

1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.

2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.

3. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Sementara, dalam amandemen di tahun 2001 dimasukkan dua ayat tambahan yang berbunyi sebagai berikut:

4. Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

5. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Ayat ke-4 itulah, yang menyebutkan prinsip demorkasi ekonomi yang dipandang menjadi pintu masuk neoliberalisme dan sangat berpotensi menggugurkan tiga ayat sebelumnya.

Mengenai hal ini, Prabowo mengatakan dirinya tidak takut dengan ayat ke-4 itu. Dia kembali mengatakan, perlu menggabungkan prinsip-prinsip yang baik kapitalisme dan sosialisme.

Dia mencontohkan misalnya pemerintah memberikan sapi kepada peternak. Kebijakan ini akan dianggap sebagai pro rakyat. Tetapi, ternyata tidak cukup hanya membagikan sapi. Pemerintah juga harus menyediakan penyuluh peternakan, dokter hewan, dan seterusnya yang dapat menjamin peternakan sapi tadi berjalan dengan baik.

"Di sisi lain, ayat 1, 2 dan 3 itu jangan dianggap mematikan insiatif, tapi soal azas kekeluagaan. Bukan zero sum game. Kita tidak anti orang kaya. Justru kita butuh banyak orang kaya," masih kata Prabowo.

Dia juga mencontohkan kepemilikan saham pemerintah yang mewakili negara di perusahaan-perusahaan tambang migas. Saham pemerintah, sebutnya tidak harus besar. Boleh kecil, asalkan memiliki hak eksklusif untuk menentukan arah dan produksi perusahaan serta punya veto power.

Prabowo mencontohkan saham pemerintah Brazil di Petrobras yang minoritas. Walau minoritas tapi saham pemerintah Brazil itu sovereign share dan sangat powerful. [guh]

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya