Berita

rizal ramli/net

Politik

RR1: Buang Doktrin Sesat, Bangun Ekonomi Nasionalisme!

SABTU, 15 FEBRUARI 2014 | 19:46 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Puluhan tahun rakyat dijejali doktrin bahwa tidak mungkin Indonesia akan maju tanpa utang dan modal asing. Doktrin ini terus dipompakan secara berkelanjutan kepada para mahasiswa di fakultas ekonomi, khususnya di universitas-univesitas negeri.

Padahal, banyak contoh negara yang bisa maju tanpa utang dan bergantung pada modal asing. Terpenting Ekonomi harus dibangun dengan landasan nasionalisme yang kokoh.

“Doktrin ini sangat menyesatkan. Jepang berkembang tanpa utang luar negeri dan modal asing sampai tahun 1986, China tumbuh pesat tanpa utang. Kedua negara tersebut bisa menjadi raksasa ekonomi dunia. Bahkan China mampu menumpuk cadangan devisa lebih dari 3 triliun dolar AS dan memberi utang kepada banyak negara maju, termasuk Amerika Serikat,” ujar Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid, DR Rizal Ramli saat berbicara pada Dialog Kebangsaan bertema 'Indonesia Sebagai Kekuatan Baru Ekonomi Global di Masa Depan' yang diselenggarakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Universitas Hasanuddin, Makassar, Sabtu (15/2).


Menurut Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia itu, Jepang perlu waktu 25 tahun untuk bangkit dari kekalahan perang Asia Timur Raya. Sedangkan Malaysia, membutuhkan waktu 20 tahun untuk menjadi negara sejahtera. China perlu 15 tahun. Bahkan, Brazil hanya perlu 8 tahun menjadi negara paling hebat di Amerika Latin.

“Ke depan pembangunan ekonomi Indonesia harus berdasarkan nasionalisme. Mazhab ekonomi nasionalisme akan memacu bangsa dan rakyat Indonesia berdaulat atas negara dan sumber daya alam (SDA)-nya. Kita tidak anti asing dan modal asing. Yang kita tidak mau, kalau asing mengendalikan dan mengeksploitir ekonomi kita,” tukasnya.

Sayangnya, lanjut Peserta Konvensi Rakyat Capres 2014 yang akrab disapa RR1 tersebut, selama puluhan tahun pemerintah lebih suka menerapkan sistem ekonomi neoliberalisme. Sistem ekonomi yang menyerahkan segala sesuatunya kepada  mekanisme pasar itu ternyata tidak membawa kesejahteraan bagi sebagian besar rakyat. Yang terjadi justru sebaliknya, lebih dari 80 persen rakyat Indonesia hingga kini belum menikmati arti kemerdekaan yang sebenarnya.

“Hal ini disebabkan karena banyak UU dan peraturan pelaksananya dipesan, dibuat draftnya, dan dibiayai oleh asing. UU No. 22/2001 tentang Migas, misalnya, adalah bukti nyata bagaimana Indonesia tidak berdaulat atas SDA karena UU-nya dipesan asing,” papar Capres paling reformis versi Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) itu.

Terkait kedaulatan ekonomi, Menteri Keuangan era Gus Dur itu menyebut hingga kini tidak kurang ada 20 UU yang dipesan asing. Jika Indonesia mau maju, lanjutnya, seluruh UU pesanan asing itu harus dibatalkan, dan segera diganti dengan UU yang lebih sesuai dengan konstitusi Indonesia.

“Persyaratan utama yang bisa membuat kita maju adalah pemimpin harus percaya diri. Pemimpin tidak boleh bermental inlander. Pemimpin juga harus punya visi, karakter, dan kapasitas untuk memecahkan masalah. Rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang sibuk melakukan politik pencitraan tanpa karya nyata,” pungkas Capres paling ideal versi The President Centre ini. [ian]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Tokoh Reformasi Amien Rais, Megawati, Sultan HB X dan Gus Dur

Selasa, 12 Mei 2026 | 14:15

KPK Panggil Mantan Kepala BBPJN Stanley Cicero

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:55

Trump Geram Kuba Tak Kunjung Tumbang Meski Dihantam Embargo Minyak AS

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:54

UEA Diduga Diam-Diam Ikut Serang Iran

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:47

Juri Lomba Cerdas Cermat Jangan Antikritik

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:45

Dua Ajudan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Digarap KPK

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:41

Purbaya Dorong Insentif Mobil Listrik di Tengah Ancaman Konflik Iran-AS Berkepanjangan

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:25

Gibran Puji Inovasi Transportasi Gratis Pemprov DKI

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:20

Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar di Kalbar Harus Diulang

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Aktivis Global Sumud Flotilla Alami Penyiksaan Selama Ditahan Israel

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Selengkapnya