Berita

ilustrasi/net

Koalisi PDIP-Demokrat Ibarat Kawin Paksa yang Sulit Disetujui Keluarga Masing-masing

SABTU, 08 FEBRUARI 2014 | 10:05 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. PDI Perjuangan akan sulit menjelaskan kepada masyarakat bila berkoalisi dengan Demokrat. Masyarakat pun akan bertanya-tanya kepada PDI Perjuangan, untuk apa selama ini menjadi oposisi dan berada di luar pemerintahan bila akhirnya di 2014 berkoalisi dengan partai yang selama 10 tahun ini berkuasa.

Karena itu, kata Koordinator Nasional PDI Perjuangan Pro-Jokowi, Budi Arie Setiadi, ada roblem psikologis politik yang akan menghambat koalisi dua partai ini. Bila koalisi ini akhirnya terjadi, maka publik akan menilai sarat kepentingan transaksional dan pragmatisme. Dan ini, tentu saja sangat membahayakan nasib aspirasi rakyat yang menghendaki perubahan.  Padahal perubahan tidak mungkin terjadi dengan membawa terlalu banyak "bagasi" lama.

Selain itu, katanya, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 8/2), gagasan koalisi PDI Perjuangan dan Demokrat akan menimbulkan pertanyaan besar mengenai apa sesungguhnya kepentingan elit partai. Pemilu 2014 pun terkesan hanya memiliki agenda minimalis dan hanya mengejar kepentingan jangka pendek.


Di saat yang sama, lanjutnya, Demokrat juga pasti bingung menjelaskan kepada rakyat, untuk apa mereka membuat Kovensi capres, kalau pada akhir nya hanya mengejar posisi wapres. Bila memang demikian, Konvensi Capres Demokrat seharusnya di bubarkan dulu. Atau konvensi nya diuubah menjadi Konvensi Wapres.

"Masak PDI Perjuangan dijadikan istri ke dua, sementara mereka sedang mengadakan resepsi," ujar mantan aktivis mahasiswa UI ini.

Koalisi PDI P dan PD mencuat karena ada wacana Mega-Pramono Edi atau Jokowi-Pramono Edi. Dan ini  bisa  di tafsirkan publik sebagai kompromi terhadap keseriusan agenda pemberantasan korupsi yg melibatkan elit partai.

"Koalisi ini seperti kawin paksa yang sulit disetujui masing-masing keluarga. Akan terjadi ironi demokrasi dengan tangisan yang air matanya tidak pernah kering, " demikian Budi. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Sekjen MPR akan Evaluasi Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:17

UMKM Binaan Pertamina Catat Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:12

40 Ormas Tolak Berkas Kasus Ade Armando Cs Dilimpahkan ke Polda Metro

Senin, 11 Mei 2026 | 18:10

Bos PSI Jatim Bagus Panuntun "Puasa Bicara" Setelah 10 Jam Digarap KPK

Senin, 11 Mei 2026 | 18:09

MPR Minta Maaf soal Juri Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Bikin Gaduh

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

PTC Bukukan Laba Rp152,9 Miliar di Tengah Fluktuasi Industri

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

Warga Sitaro Minta Proses Hukum Bupati Chyntia Kalangin Berjalan Adil

Senin, 11 Mei 2026 | 17:42

Bus Terguling di Tol Sergai, Empat Penumpang Tewas

Senin, 11 Mei 2026 | 17:33

Keberanian Siswi Koreksi Juri LCC Patut Diapresiasi

Senin, 11 Mei 2026 | 17:17

Bank Mandiri Pertegas Komitmen Akselerasi UMKM Naik Kelas di Ajang Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 17:14

Selengkapnya