Berita

tb hasanuddin/net

IMIGRAN GELAP

TB Hasanuddin: Kebijakan Australia Bisa Dianggap sebagai Pembunuhan Massal yang Tak Beradab

SABTU, 08 FEBRUARI 2014 | 08:05 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Kebijakan pemerintah Australia di bawah Perdana Menteri Tony Abot yang mengusir kembali para imigran gelap dari wilayah perairan Australia ke wilayah perairan Indonesia sangat patut disesalkan.  Sebagai tindakan ini telah melanggar hak asasi manusia (HAM) dan konvensi internasional tentang perlindungan terhadap imigran.

"Tindakan ini juga dapat menimbulkan ketegangan bahkan konflik politik, dan tidak mustahil menjadi konflik militer antara Australia dengan Indonesia bila Australia  terus-terusan melakukan provokasi dengan mengembalikan para imigran-imigran itu, karena Indonesia bukan negara asal imigran," kata Wakil Ketua Komisi I, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 8/2).

Seharusnya, lanjut TB Hasanuddin, Australia mencari solusi yang lebih konprehensif dengan cara  melakukan  koordinasi dengan negara-negara yang dilintasi seperti Indonesia, Singapura dan Malayasia. Australia juga seharusnya melakukan koordinasi dengan negara-negara asal imigran seperti Irak, Afganistan dan Pakistan. Di saat yang sama, Australia juga seharusnya berkoordinasi dengan United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) PBB.


Indonesia, dalam catatan TB Hasanuddin, pada tahun 1975-1980-an, juga punya pengalaman pernah juga menerima ratusan ribu imigran gelap dari Vietnam. Saat itu, Indonesia dapat menyelesaikan persoalan dengan baik-baik tanpa menimbulkan ketegangan di kawasan ini.

"Mengembalikan imigran yang sudah kesakitan dan kelaparan dapat dianggap sebagai pembunuhan masal yang sangat memalukan dan tak beradab. Bayangkan , sekarang ini lebih dari 60 ribu imigran diperkirakan sedang dalam persiapan di sekitar Malayasia akan menuju Australia, dan kalau mereka berangkat sekaligus barangkali cara-cara yang diambil oleh Australia hanya akan menambah persoalan semakin rumit dan bisa saja  akan terjadi kematian massal di laut," demikian TB Hasanuddin. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Sekjen MPR akan Evaluasi Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:17

UMKM Binaan Pertamina Catat Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:12

40 Ormas Tolak Berkas Kasus Ade Armando Cs Dilimpahkan ke Polda Metro

Senin, 11 Mei 2026 | 18:10

Bos PSI Jatim Bagus Panuntun "Puasa Bicara" Setelah 10 Jam Digarap KPK

Senin, 11 Mei 2026 | 18:09

MPR Minta Maaf soal Juri Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Bikin Gaduh

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

PTC Bukukan Laba Rp152,9 Miliar di Tengah Fluktuasi Industri

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

Warga Sitaro Minta Proses Hukum Bupati Chyntia Kalangin Berjalan Adil

Senin, 11 Mei 2026 | 17:42

Bus Terguling di Tol Sergai, Empat Penumpang Tewas

Senin, 11 Mei 2026 | 17:33

Keberanian Siswi Koreksi Juri LCC Patut Diapresiasi

Senin, 11 Mei 2026 | 17:17

Bank Mandiri Pertegas Komitmen Akselerasi UMKM Naik Kelas di Ajang Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 17:14

Selengkapnya