. Dalam 15 tahun terakhir ini, Adnan Buyung Nasution lebih banyak menjadi beban ketimbang solusi buat bangsa ini. Dan masalah terberat Adnan adalah melakukan negosiasi terhadap koruptor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).
Bahkan, kata Staf Khusus Presiden SBY, Andi Arief, Adnan juga lepas tangan dan tidak pernah menyesal merekomendasikan pengemplang BLBI lari hingga kini. Tidak kalah berat lainnya sebagai orang tua adalah ia tidak mampu dan tidak mencegah anaknya melakukan tindak pidana korupsi, yaitu Iken BR Nasution yang ditetapkan jadi tersangka kasus korupsi pengadaan sapi di Departemen Sosial pada tahun 2004.
"Mustahil orang tua yang bergelut di bidang hukum tidak sensitif terhadap perkembangan anaknya," kata Andi Arief dalam keterangan beberapa saat lalu (Jumat, 7/2).
Menurut Andi Arief, Adnan terus membela koruptor "gemuk" dengan berbagai dalih. Misalnya saja membela Gayus Tambunan, Tubagus Wawan, dan terakhir Anas Urbaningrum. ABN pun membela ketiga orang terakhir ini dengan dibungkus kata-kata agar mereka berterus terang.
"Saya heran mereka percaya pada pengacara yang gagal mencegah anaknya korupsi. Bahkan dalam kasus Wawan Buyung mati-matian membela sampai hendak membubarkan KPK. Dalam membela Anas, ABN menyempatkan diri untuk memanfaatkan Anas untuk menyerang Presiden. Apakah Presiden tidak boleh diserang secara politik? saya kira, sembilan tahun lebih isi politik kita yang dinamis adalah serangan dan cacian tanpa henti pada Presiden, dan hal itu disadari sebagai dinamika demokrasi," jelas Andi Arief.
Sejak tidak lagi menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), lanjut Andi Arief, sudah berkali-kali Adnan Buyung ikut hanyut dalam situasi yang tidak bisa membedakan fakta dan opini. Buyung tidak bisa melihat lagi fakta dan isu.
Dalam kasus Century misalnya, Andi menjelaskan lagi, Presiden SBY sudah menjelaskan dengan terang benderang apa yang terjadi saat
bailout Century. Posisinya SBY terhadap kebijakan Century juga sudah jelas, pun demikian dengan pembelaannya secara terbuka kepada kebijakan yang telah diambil mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani dan mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono.
Sebagai Kepala Negara, lanjut Andi Arief, SBY sudah mempersilakan aparat hukum untuk menindak pigak yang terindikasi korupsi dan lain-lain. Di saat yang sama, paripurna hak angket Century tak mampu menunjukkan tindak pidana korupsi, karena memang bukan tugas mereka. Sementara Timwas Century hanya pepesan kosong, KPK sudah dan sedang bekerja maksimal.
"Seluruh mekanisme hukum sudah dijalankan dalam mengungkap apakah ada kejahatan korupsi dalam kebijakan
bailout tersebut. Kalau Sri Mulyani dan Pak Boediono saja sudah menyatakan kondisi yang sebenarnya saat pengambilan kebijakan itu, mengapa justru ABN membuat opini sesat yang memutarbalikkan fakta," jelas Andi Arief.
Dalam hal Anas, Andi Arief berani menyatakan bahwa Anas Urbaningrum adalah orang yang tidak paham dan sejak awal berposisi bahwa kasus century adalah politisasi. Kalau misalnya Anas mengaku tahu banyak soal Century, Andi menduga justru Adnan Buyung yang memaksa Anas agar seperti tahu banyak soal Century.
"Saat kasus Century merebak, Anas sempat kaget waktu saya bertanya apakah dia sudah membaca audit BPK apa belum. Menurut Anas, dia hanya tahu ringkasan yang 29 halaman itu saja. Dan kegagalan terbesar Anas dalam meyakinkan kebenaran bailout Century adalah karena dia tidak memahami dan menganggap angket Century hanya politisasi, bukan mencari kebenaran," ungkap Andi Arief
Andi Arief berharap KPK tidak gentar dengan Buyung yang punya ciri khas politik gertak sambal untuk menutupi kelemahannya di tempat lain.
"Kalau banyak analis mengatakan bahwa ABN dendam terhadap penetapan tersangka anak kandungnya, saya berpendapat lain. ABN mungkin saja telah mendengar KPK sedang menyelidiki kasus besar yang bukan tidak mungkin akan menyeret-nyeret ABN. hati kecil saya menyatakan ABN galau kalau misalnya pengemplang BLBI yang dibiarkannya lari ke luar negeri tertangkap. Karena ada trend buronan besar tertangkap di negeri ini. Kalau KPK serius soal BLBI, ABN orang yang layak menjadi terperiksa," urai Andi Arief.
Andi Arief pun menilai sikap Anas yang berubah dalam mensikapi hukum maupun cara berpolitiknya karena ada faktor Adnan.
"Kalau kelas kakap pengemplang BLBI dikendalikan, apalagi Anas, Gayus dan Wawan. Bukan hanya koruptor musuh bangsa ini, tapi yang mendapat keuntungan dari koruptor jauh lebih berbahaya," demikian Andi Arief.
[ysa]