Berita

SBY Memang 'Pintar'

SELASA, 28 JANUARI 2014 | 16:41 WIB | OLEH: SYAFRIL SJOFYAN

SUSILO Bambang Yudhoyono memang pintar namun tidak punya karakter seorang yang berjiwa ksatria. Dia berusaha membersihkan dirinya melalui buku menurut versi pribadi (subjektivitas), yang isinya lebih banyak pembelaan diri.

Di dalam buku terbarunya, SBY sangat kental menciptakan cerita seputar orang dekatnya atau orang yang tidak disukainya namun tidak menyebutkan nama orang atau nama partai yang dia ceritakan, yang tentu saja akan membuat pembacanya menduga-duga atau terbiaskan dengan kesimpulannya masing-masing.

SBY tentu melakukannya dengan kesadaran penuh alias sangat disengaja dengan maksud agar secara liar pembaca bisa mengambil kesimpulan sendiri secara negatif terhadap orang-orang yang diceritakan oleh SBY. Kalaupun kesimpulannya negatif terhadap orang yang diceritakan secara hukum, SBY tidak akan bisa dituntut memfitnah karena tidak menyebutkan nama. Kalaupun SBY bercerita bohong pembaca juga akan berfikir SBY benar dan tidak sedang menuding karena tidak menyebutkan nama. Di sinilah kemampuan SBY bermain kata dengan mengatakan pembaca buku ini tidak akan pernah tahu siapa gerangan sahabatnya yang unik.


"Biarlah itu jadi kenangan indah," kata SBY. "Saya ini hidup bersama lagu Jangan Ada Dusta Diantara Kita". Dan sebagai sahabat SBY pun mendoakan yang terbaik untuk orang itu. Alangkah indahnya dan sangat memikat sekali.
 
Namun mari kita elaborasi tentang sahabat sekaligus yang ngotot menyerang SBY menurut versi SBY di halaman 147, dalam judul kecil "Musuh Menjadi Semakin Banyak". Di sana SBY menguraikan panjang lebar mengenai sosok yang disebut sebagai tokoh unik. "Saya akan menutup topik ini dengan cerita tentang seseorang yang amat gigih melaksanakan 'kampanye anti-SBY'. SBY memang tidak menyebut nama namun memberi sejumlah petunjuk melalui cerita yang cukup panjang lebar sehingga mengarah pada sosok tertentu. Sejumlah media menyimpulkan sosok yang dimaksud SBY adalah Rizal Ramli.

Mengenai posisi Rizal di BUMN, dalam bukunya SBY menyebutkan, "Setelah itu ia minta sebuah posisi di BUMN. Permintaan itu saya kabulkan karena yang bersangkutan memang punya kemampuan untuk itu. Kemudian setelah itu ia keluar dari posisi itu, kemudian minta posisi menteri di kabinet. Tentu tidak segampang itu saya melakukan penggantian menteri."
 
Pernyataan SBY ini jelas kebohongan. Rakyat tahu dan media jadi saksi Rizal Ramli dilengserkan atau dipaksa turun sebagai Komisaris BUMN setelah memimpin demo besar-besaran anti kenaikan BBM di tahun 2008 bersama Rieke Diah Pitaloka, dan aktivis buruh Said Iqbal. Rizal Ramli dilengserkan dari Komisaris BUMN melalui rapat luar biasa pemegang saham. Bukan keluar seperti diceritakan SBY dalam bukunya.

Setelah itu Rizal Ramli dituduh mengerakan massa melakukan pembakaran mobil sampai diperiksa polisi, yang akhirnya tuduhan tersebut tidak terbukti. Dalam posisi berlawanan dengan menentang kenaikan BBM atau kebijakan SBY, rasanya sangat tidak masuk akal Rizal Ramli meminta jabatan menteri. Disinilah hebatnya SBY lagi. Dia tidak menyebutkan nama. Jelas, Rizal Ramli tidak bisa menuntut SBY telah menyebarkan fitnah.
 
Kehebatan lain dari buku "Semua Ada Pilihan" adalah tentang pembelaan Edhie Baskoro 'Ibas' Yudhoyono. SBY menyebut wibawanya sebagai Presiden akan hancur apabila Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa putra bungsunya itu. Sementara itu, "Ada pula yang mengatakan bahwa Ibas sangat bisa dijebak, agar ada pintuk masuk untuk memperkarakanya. Alasanya, dipanggil saja Ibas oleh KPK, misalnya menjadi saksi siapapun dan untuk kasus apapun, maka runtuhlah sudah kewibawaan saya sebagai Presiden," tulis SBY.

SBY juga menebar cerita ada kelompok yang berusaha mendesak Ibas agar diperiksa KPK, memfitnah KPK, ada yang telah juga merasuk di lingkungan KPK. Dibumbui dengan cerita Ibu Ani selalu menangis tentang Ibas menambah pembaca terenyuh.

Seperti diketahui desakan agar KPK memeriksa Ibas muncul setelah sejumlah saksi penting di KPK mengungkap ada aliran dana ke Ibas. Selain itu KPK yang sejak tiga tahun lalu memeriksa kasus korupsi mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin, tidak sekalipun pernah memeriksa Ibas. Loh, jadi siapa yang punya kemampuan mempengaruhi KPK, bukan kah kekuasaan ada ditangan Presiden? Malah dengan bukunya SBY terkesan menekan dan mempengaruhi KPK agar tidak memeriksa Ibas.[***]

*Penulis adalah aktivis 77/78

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

Lima BPD Berebut Jadi Tuan Rumah Munas BPP HIPMI XVIII

Minggu, 15 Februari 2026 | 12:17

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

UPDATE

BNI dan Universitas Terbuka Perkuat Digitalisasi Dana Riset

Rabu, 25 Februari 2026 | 18:10

KPK Agendakan Ulang Periksa Budi Karya Pekan Depan

Rabu, 25 Februari 2026 | 18:05

BGN Tegaskan Jatah MBG Rp8–10 Ribu per Porsi, Bukan Rp15 Ribu

Rabu, 25 Februari 2026 | 17:52

PDIP Singgung Keadilan Anggaran antara Pendidikan dengan MBG

Rabu, 25 Februari 2026 | 17:30

Purbaya Tunggu Arahan Prabowo soal Usulan THR Bebas Pajak

Rabu, 25 Februari 2026 | 17:25

Saksi Sebut Tak Ada Aliran Dana ke Nadiem dan Harga Chromebook Dinilai Wajar

Rabu, 25 Februari 2026 | 17:20

Mudik Gratis Jasa Marga 2026 Dibuka, Ini Cara Daftar dan Rutenya

Rabu, 25 Februari 2026 | 17:18

Legislator PDIP Minta Tukang Ojek Pandeglang Dibebaskan dari Tuntutan Hukum

Rabu, 25 Februari 2026 | 17:11

Meksiko Jamin Piala Dunia 2026 Aman usai Bentrokan Kartel

Rabu, 25 Februari 2026 | 17:00

5 Cara Mencegah Dehidrasi saat Puasa Ramadan agar Tubuh Tetap Bugar

Rabu, 25 Februari 2026 | 16:54

Selengkapnya