Berita

Politik

Satu dari Empat Anak Korban Tsunami Jepang Butuh Perawatan Kejiwaan

SENIN, 27 JANUARI 2014 | 18:30 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Satu dari empat anak korban bencana tsunami Jepang tahun 2011 mengalami permasalahan kejiwaan. Hal tersebut terungkap dari laporan pemerintah Jepang yang dilansir pada Senin (27/1).

Tim peneliti yang terlibat dalam pembuatan laporan tersebut menyebut bahwa efek kejiwaan yang diderita anak-anak tersebut dapat bertahan seumur hidup bila tidak ditangani.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Shigeo Kure dari Tohoku University, School of Medicine menemukan bahwa 25.9 persen anak-anak yang berusia antara tiga hingga lima tahun yang pernah mengalami bencana tsunami menunjukkan sejumlah gejala gangguan kesehatan seperti vertigo, mual dan sakit kepala. Beberapa di antaranya menunjukkan perilaku psikologis yang mengkhawatirkan seperti tindakan kekerasan atau penarikan diri dari lingkungan.


Perilaku anak-anak itu, jelas tim peneliti melalui laporan tersebut, dipicu oleh trauma yang dialaminya. Mereka kehilangan teman-teman bermainnya. Mereka juga melihat rumah mereka yang runtuh, atau terjangan air. Beberapa di antaranya bahkan kehilangan orang tua.

Bila tidak menerima perawatan kejiwaan, gangguan yang dialami anak-anak tersebut dapat menjadi lebih buruk di kemudian hari, seperti gangguan perkembangan dan kesulitan belajar yang akan mempengaruhi prestasi akademik.

"Karena mereka mungkin memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain akibat pengaruh dari pengalaman bencana," jelas Kure seperti dikuti AFP.

Bencana tsunami yang menimpa Jepang pada Maret 2011 lalu dipicu oleh gempa bawah laut. Lebih dari 18.000 orang tewas akibat terjangan tsunami. Bencana tersebut kemudian diperparah dengan adanya kebocoran reaktor nuklir di Fukushima yang memaksa puluhan ribu orang mengungsi demi menghindari radiasinya.

Penlitian tersebut melibatkan 178 anak yang orang tua atau walinya telah setuju untuk bekerjasama di tiga wilayah yang paling parah terkena bencana, yakni Iwate, Miyagi, dan Fukushima.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan standar yang diakui secara internasional. Anak-anak tersebut diteliti sejak September 2012 hingga Juni tahun 2013 lalu.

"Anak-anak yang menjadi bagian dari penelitian kita telah menerima dan akan tetap menerima perawatan kejiwaan hingga tahun mendatang, tapi masalah lain adalah bagaimana menjangkau anak-anak yang juga membutuhkan perawatan, namun belum teridentifikasi dalam daftar," jelasnya.[dem]

Populer

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

Pujian Anies ke JK Benamkan Ade Armando Cs

Senin, 18 Mei 2026 | 04:20

UPDATE

Perkuat Inovasi, Anak Usaha Pertamina Sabet Penghargaan CCSEA Enam Kali

Sabtu, 23 Mei 2026 | 00:19

Tio Aliansyah Diadukan ke DKPP Gegara Ikut Helikopter Bareng Anggota KPU

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:55

Legislator Kebon Sirih Ingin jadi Batman Benahi Gotham City

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:35

173 Bandit Jalanan di Jadetabek Sukses Diringkus Polisi

Jumat, 22 Mei 2026 | 23:15

Kejagung Didesak Bongkar Pihak Terkait Bos Tambang di Kalbar Tersangka Korupsi

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:53

Tata Kelola RSUD dr Soedarso Disorot, Utang Pengadaan Obat Tembus Rp29 Miliar

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:49

Energy AdSport Challenge Wadah Mahasiswa Berprestasi Jalur Non-Akademis

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:47

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Komisioner Pertamina: Perempuan Jangan Takut Masuk Dunia STEM

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:15

Fraksi PKB Bakal Panggil Kapolda dan Kajati Kalbar

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:12

Selengkapnya