Berita

Politik

Indonesia Terancam Tidak Bisa Menjadi Negara Hebat

KAMIS, 23 JANUARI 2014 | 00:04 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Indonesia tidak akan bisa menjadi Negara maju bila pola rekrutmen kepemimpinan nasional yang berlaku sekarang ini tidak diubah. Pola rekrutmen kepemimpinan yang dilakukan berdasarkan popularitas harus diubah dengan pola rekrutmen berdasarkan kualitas.

"Ini yang saya sayangkan, belakangan di Indonesia kriteria kepemimpinan berdasarkan popularitas. Popularitas penting tapi bukan yang utama," ujar peserta Konvensi Calon Presiden Rakyat, DR. Rizal Ramli di sela pertemuan dengan aktivis Nahdlatul Ulama di Tebet Jakarta (Rabu malam, 22/1).

Menurut ekonom senior itu, rekrutmen kepemimpinan harus didasarkan pada visi, karakter yang kuat dan kompetensi. Pola rekrutmen pemimpin berdasarkan popularitas bukan solusi atas segala permasalahan bangsa. Rekrutmen kepemimpinan berdasarkan popularitas semata tidak akan membuat Negara ini menjadi hebat.


Dia mencontohkan apa yang terjadi di Philipina. Di Philipina, orang yang bisa menjadi pemimpin hanyalah orang yang memiliki modal kuat karena bisa memasang iklan dan kalangan celebrity. Karenanya tidak aneh jika Philipina dikatakan tidak bisa menjadi negara kuat dan hebat karena kriteria pemimpinnya harus selebriti.

"Kalau pola rekrutmen ini tidak diubah maka Indonesia terancam akan menjadi The Next Philippine," paparnya.

Lebih lanjut Rizal Ramli yang disapa RR1 karena menjadi peserta Konvensi Capres Rakyat nomor 1 mengingatkan, popularitas bisa direkayasa. Tingkat popularitas seseorang yang rendah bisa disulap dalam waktu sekejap. Sementara visi, karakter dan kompetensi tidak bisa direkayasa. Oleh karena itu dia mengimbau agar masyarakat tidak mengutamakan popularitas sebagai pertimbangan dalam menentukan pemimpin.

"Indonesia terancam tidak akan pernah menjadi The Next China atau The Next Korea kalau rekrutmen kepemimpinan kita berdasarkan popularitas. Kita harus ubah," demikian RR1.[dem]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Kampus Demokrasi Obama

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:54

Presiden Prabowo Kemudikan Kapal Indonesia Menuju Ekonomi Pancasila

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:36

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:18

Keberadaan DSI Perlu Dievaluasi Ulang dalam Tata Niaga Sawit

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:59

Usaha Jufriyah Terus Keruk Cuan Bersama BRI

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:34

Perdamaian AS-Iran Tanpa Israel

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:16

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:55

BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Berbagai Solusi Finansial

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35

Koperasi Menjaga Keseimbangan

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:15

Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan Harus jadi Kebutuhan

Selasa, 23 Juni 2026 | 02:55

Selengkapnya