Berita

ilustrasi

Bisnis

Pengalihan LNG Ke Domestik Perlu Investasi Besar

SKK Migas Mengaku Indonesia Butuh Impor
RABU, 22 JANUARI 2014 | 09:23 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Desakan untuk mengalihkan ekspor gas alam cair (LNG) ke dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan elpiji sulit dilakukan dalam waktu dekat. Pasalnya, kedua jenis gas tersebut berbeda dan terkendala infrastruktur.

 Kepala Humas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Elan Biantoro mengatakan, ada tiga jenis gas yaitu elpiji, LNG dan CNG (gas alam terkompresi). Ketiga jenis itu memiliki karakter yang berbeda.

Menurutnya, elpiji dan LNG sama-sama gas yang dicairkan untuk memudahkan pengangkutan jarak yang tidak terjangkau dengan pipa. “Meskipun sama-sama gas cair, komponen yang mendominasi keduanya berbeda,” katanya di Jakarta, kemarin.


Komponen elpiji, didominasi oleh propana dan butana. Jenis gas ini memiliki massa jenis yang lebih besar dari LNG. Gas jenis itu cocok untuk rumah tangga.

Elan mengatakan, elpiji diproduksi di beberapa lapangan migas. Kendati begitu, tidak semua gas yang keluar dari sumur bisa dijadikan elpiji karena tidak semua lapangan menghasilkan uap gas yang cukup banyak sehingga ekonomis untuk dimanfaatkan.

“Produksi elpiji Indonesia saat ini sekitar 1,4 juta metrik ton per tahun, sementara kebutuhan elpiji nasional sekitar 5 juta metrik ton per tahun. Inilah yang menyebabkan Indonesia masih harus mengimpor,” jelasnya.

Sedangkan LNG adalah gas yang didominasi oleh metana dan etana. Pengembangan dan pemanfaatan LNG memerlukan infrastruktur yang lebih kompleks.

Dari sisi hulu, pengembangan LNG tidak hanya memerlukan fasilitas produksi biasa, tetapi memerlukan kilang yang mampu mencairkan gas tersebut sampai suhu minus 150-200 C dan fasilitas pendingin serta tanki kriogenik. Karena itu, LNG membutuhkan investasi yang sangat besar.

Sementara di sisi hilir, pemanfaatan LNG memerlukan fasilitas untuk mengubah LNG menjadi gas kembali, yang disebut dengan LNG Regasification Terminal.  Saat ini Indonesia baru memiliki satu fasilitas regasifikasi, yaitu yang dioperasikan PT Nusantara Regas di Teluk Jakarta. Selain fasilitas regasifikasi, pemanfaatan gas yang dihasilkan juga memerlukan jaringan pipa untuk sampai ke konsumen.

“Dengan kebutuhan akan temperatur yang sangat rendah seperti ini, jelas LNG tidak bisa diedarkan dalam bentuk tabung-tabung seperti elpiji,” ucap Elan.

Sementara produksi dan penyimpanan CNG lebih murah dibanding LNG. Hanya saja, CNG membutuhkan tempat penyimpanan lebih besar serta tekanan yang sangat tinggi, sehingga distribusinya tidak bisa untuk jarak yang terlalu jauh dari sumber gas. Saat ini, jenis itu sudah dipakai untuk busway dan bajaj di Jakarta.

Sekretaris SKK Migas Gde Pradnyana mengatakan, pemanfaatan gas alam untuk pasokan energi domestik terkendala infrastruktur. Lapangan-lapangan gas sering kali ditemukan di wilayah yang jauh dari sentra kebutuhan gas, sehingga perlu infrastruktur untuk memproduksi LNG dan untuk meregasifikasi dan menyalurkannya ke konsumen.
 
Dalam beberapa kasus, produsen gas, yaitu industri hulu migas sudah memberikan komitmen untuk memasok gas bagi transportasi. Namun, ini belum bisa terealisasikan karena infrastruktur tidak tersedia. Penyediaan infrastruktur itu di luar wewenang industri hulu migas. ***

Populer

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

KPK Dikabarkan Kembali Gelar OTT di Sumut

Kamis, 02 Juli 2026 | 20:50

KPK Gelar OTT di Kabupaten Kuantan Singingi Riau

Senin, 29 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

UAS Dihadang di Kutai Barat, DPR Minta Aparat Lindungi Tokoh Agama

Selasa, 07 Juli 2026 | 20:09

Jadwal Babak Perempat Final hingga Final Piala Dunia 2026

Selasa, 07 Juli 2026 | 19:51

RI Bisa Belajar dari Vietnam untuk Capai Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 07 Juli 2026 | 19:41

Prabowo Berpeluang Akhiri Konflik Rempang dengan Standar Tata Kelola Baru

Selasa, 07 Juli 2026 | 19:34

Video Parodi Kopdes Jauh dari Pemukiman Viral, Menkop Janji Evaluasi

Selasa, 07 Juli 2026 | 19:32

Roy Suryo Pede Menangkan Praperadilan soal Pasal ITE

Selasa, 07 Juli 2026 | 19:10

ASN Pemkot Bandung Terlibat Judol Bisa Dipecat

Selasa, 07 Juli 2026 | 18:50

Ledakan Guncang Damaskus di Tengah Kunjungan Bersejarah Presiden Macron

Selasa, 07 Juli 2026 | 18:28

Puan Siap Tindak Lanjuti Diplomasi "Sungai Gangga dan Sungai Mahakam"

Selasa, 07 Juli 2026 | 18:05

Prediksi Argentina Kontra Mesir Malam Ini

Selasa, 07 Juli 2026 | 17:51

Selengkapnya