Berita

Ratna Sarumpaet: Membentuk Pemerintahan Transisi Tidak Harus dengan Darah

SELASA, 14 JANUARI 2014 | 10:42 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Kerusakan fatal berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara hanya dapat ditanggulangi dengan melakukan langkah-langkah tidak konvensional namun berorientasi pada kepentingan rakyat banyak.

Salah satunya adalah dengan mendirikan pemerintahan transisional yang memiliki tugas khusus mengembalikan kedaulatan dan kewibawaan rakyat, bangsa dan negara Indonesia.

Ketua Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) Ratna Sarumpaet mengatakan bahwa pemerintahan transisi dapat dibentuk dengan damai tanpa setetes darahpun yang tertumpah.


"Asumsi bahwa Pemerintahan Transisi hanya bisa terwujud dengan revolusi berdarah adalah keliru apabila seluruh elemen bangsa termasuk penguasa dan partai-partai politik betul-betul tulus menginginkan perubahan mendasar," ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi.

Ratna Sarumpaet mengatakan, Pemerintahan Transisi dibentuk oleh masyarakat non partai politik, bukan untuk berkuasa, tapi untuk melakukan revolusi sistem, lalu dalam waktu sesingkat-singkatnya menggelar pemilu.

"Memaksakan Pemilu 2014 yang notabene tidak siap di hampir semua sisi, hanya akan menunda kehancuran bangsa yang jauh lebih fatal," ujarnya lagi.

Gagasan membentuk pemerintah transisi telah dibicarakan beberapa kali. Salah satu puncaknya adalah Forum Musyawarah Mufakat (FMM) yang digelar di Bandung akhir Oktober 2013 lalu. Organisasi non partai peserta FMM sepakat memperjuangkan Indonesia kembali ke Pancasila dan UUD 1945 serta mengembalikan MPR sebagai lembaga tertinggi negara.

Akhir pekan ini, FMM akan kembali digelar di Jakarta untuk membicarakan kelanjutan dari pelaksanaan kesepakatan Bandung sebelumnya.

Menurut Ratna Sarumpaet, FMM 2 akan digelar di Auditorium Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, hari Sabtu dan Minggu (18-19/1). Sejumlah intelektual diundang berbicara, seperti Salamuddin Daeng,  Prof. Musdah Mulia, DR. Margarito, dan DR. Yudi Latif.

"Fakta bahwa UUD hasil amandemen telah melumpuhkan kemandirian dan kedaulatan negara, bangsa dan rakyat adalah fakta Indonesia tak terbantahkan hari ini. Fakta itu membuat desakan masyarakat kembali ke Pancasila dan UUD 1945 dan mengembalikan MPR sebagai lembaga tertinggi negara terus bergulir dan meluas. Keinginan itu sudah dibahas di Istana Presiden dan sudah didiskusikan secara informal di kalangan politisi," demikian Ratna. [dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Koperasi Harus Saling Berkolaborasi Perbesar Dampak Ekonomi

Jumat, 10 April 2026 | 22:20

Presiden Harus Ganti Gus Ipul Demi Sukses Muktamar NU

Jumat, 10 April 2026 | 22:14

Demonstran: MK Harus Jaga Marwah dan Jangan Takut Tekanan

Jumat, 10 April 2026 | 22:06

Pimpinan Baru Ombudsman RI Bertekad Kawal Asta Cita dan Perkuat Pengawasan Publik

Jumat, 10 April 2026 | 22:02

Teddy Bantah Isu RI Kaos, BBM Subsidi Tak Naik Jadi Bukti

Jumat, 10 April 2026 | 21:43

Breaking News: KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Jumat, 10 April 2026 | 21:38

Reshuffle Menteri Prabowo Jangan Tebang Pilih

Jumat, 10 April 2026 | 21:16

Dihantam Gelombang Mundur, PKN: Mati Satu Tumbuh Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 21:02

Perlu Peraturan Pemerintah Baru Demi Lindungi 64 Juta UMKM di Era Digital

Jumat, 10 April 2026 | 20:48

TNI Digeber Lewat Bimtek Ketahanan Pangan

Jumat, 10 April 2026 | 20:44

Selengkapnya