Berita

rizal ramli/net

RR 1: Kita Harus Wujudkan, Kita Tidak Punya Pilihan, Rakyat Harus Sejahtera!

SENIN, 06 JANUARI 2014 | 13:40 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Presiden Indonesia yang terpilih pada Pilpres 2014 harus bisa menyelamatkan ekonomi nasional yang kini berada dalam kondisi lampu kuning, terjadinya quatro-deficits sekaligus.

"Ini berbahaya. Presiden mendatang harus bisa menyelesaikan masalah makro ekonomi. Presiden mendatang harus bisa mengatasi quatro-deficits. Bukan presiden citra," ujar ekonom senior DR. Rizal Ramli ketika menjadi pembicara dalam Seminar Nasional "2014 Indonesia Harus Berbuat Apa?" di Aula Pertamina Kampus Politeknik Negeri Malang, Jawa Timur (Senin, 6/1).

Selain Rizal Ramli, seminar yang diselenggarakan dalam rangka Musyawarah Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEMSI) ini juga menghadirkan pembicara lain yakni Dekan Fakultas Hukum Univeristas Dr. Suhardi SH. M.Si, dan Mayjen TNI Puguh Buntoro. Seminar dihadiri 40 pengurus BEMSI dari berbagai kampus di seluruh Indonesia dan sekitar 750 an mahasiswa dan pengajar Politeknik Negeri Malang dan kampus lain di Malang. Hadirin nampak serius mendengar paparan Rizal Ramli.


Quatro-deficits yang dimaksud Rizal Ramli adalah defisit Neraca Perdagangan sebesar minus 6 miliar dolar AS, defisit Neraca Pembayaran minus 9,8 miliar dolar AS, deficit Balance Of Payments minus 6,6 miliar dolar AS pada Q1-2013, dan defisit APBN plus utang lebih dari Rp 2.100 triliun.

Menurut RR 1, demikian peserta Konvensi Capres Rakyat nomor urut 1 ini disapa,  pemimpin citra bukanlah solusi atas keterpurukan ekonomi dan permasalahan bangsa lainnya.  Pemimpin citra menghasilkan ekonomi kita keropos.

"Quatro-deficits tidak terjadi dalam satu dua hari. Ini hasil pemimpin citra. Karenanya pemimpin terpilih nanti harus merupakan bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah," katanya mengingatkan.

Masalah lain yang harus bisa diatasi presiden terpilih mendatang, kata Menteri Koordinator Perekonomian era Pemerintahan Abdurrahman Wahid ini, rendahnya indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia yang saat ini terbelakang di antara lima negara Asean di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Philipina. Presiden mendatang juga harus bisa menghadirkan kemerdekaan sesungguhnya bagi 80 persen rakyat yang saat ini belum hidup sejahtera.

"Ini tugas kita, bagaimana yang 80 persen ini bisa naik kelas, bisa merasakan kemerdekaan. Kita harus wujudkan, kita tidak punya pilihan, rakyat harus sejahtera," tegasnya.

Bagi RR 1, meningkatkan kesejahteraan rakyat bukan tugas sejarah sukar. Harapan ini bisa dicapai dengan cara menjalankan ekonomi Konstitusi secara utuh. Bukan ekonomi Pancasila tapi Undang undang pelaksananya neoliberal. Ekonomi neolib merupakan pengkhianatan terhadap Pancasila.

"Laksanakan model pembangunan berbasis nasionalisme. Inilah yang harus kita ubah di 2014," papar RR1.

Dia menegaskan bahwa bantuan dari bank dunia, IMF dan sejenisnya hanya menghasilkan hidup bangsa ini pas-pasan, dan gap kaya miskin semakin lebar. Tidak benar sebuah negara bisa maju dengan utang asing. Jepang dan China contoh Negara yang bisa maju tidak dengan utang. Jepang, katanya, butuh 30 tahun mengejar ketertinggalan dari negara-negara Barat. Jepang tidak kaya sumber daya alam. Sepertiga alamnya tidak bisa ditanami. Tetapi mereka investasi meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dimulai dengan Restorasi Meiji. Generasi muda Jepang dipaksa pemimpinnya agar cerdas tetapi tetap memiliki nasionalisme.

"Sumber daya alam kita melimpah, kita bisa dalam waktu lima tahun," tekannya.

Dengan menjalankan ekonomi berbasis nasionalisme, kata RR 1, pembangunan di Korea berkembang pesat. Korea yang pada tahun 70 an pendapatan per kapita penduduknya 100 dolar AS sekarang ini menjadi 25 ribu dolar AS. Dibandingkan Indonesia yang menjalankan ekonomi neolib, Indonesia yang pada tahun 70 an pendapatan perkapitanya sama dengan Korea, kini Indonesia hanya mencapai 3 ribu dolar AS. [ysa]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

Komisi I DPR: Kisruh Rating IGRS di Steam Picu Kegaduhan

Rabu, 08 April 2026 | 19:50

JK Jangan jadi Martir Pemecah Belah Bangsa

Rabu, 08 April 2026 | 19:41

Narasi Pesimis di Tengah Gejolak Global Ganggu Stabilitas Nasional

Rabu, 08 April 2026 | 19:19

Ulama Dukung Wacana BNN Larang Vape

Rabu, 08 April 2026 | 19:18

KAMMI: Kerusakan Lingkungan Tidak Bisa Selesai di Ruang Diskusi

Rabu, 08 April 2026 | 19:05

WFH Momentum Perkuat Layanan Digital

Rabu, 08 April 2026 | 19:02

Motor Listrik Operasional SPPG Sudah Direncanakan Sejak 2025

Rabu, 08 April 2026 | 19:00

Harus Melayani, Kader PKB Jangan jadi Tamu 5 Tahunan

Rabu, 08 April 2026 | 18:51

JK Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli Buat Akhiri Polemik

Rabu, 08 April 2026 | 18:44

7 Menu Warteg Paling Dicari Orang Indonesia

Rabu, 08 April 2026 | 18:42

Selengkapnya