Berita

Hidayat Nur Wahid

Wawancara

WAWANCARA

Hidayat Nur Wahid: Kalah Di Pilkada Jakarta Belum Tentu Kalah Di Tingkat Nasional

JUMAT, 03 JANUARI 2014 | 09:29 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemilihan umum capres ala kader PKS yang disebut Pemira menempatkan Hidayat Nur Wahid sebagai pemenangnya. Hidayat yang di Pilkada DKI kalah di putaran pertama meyakinkan kader PKS bahwa kekalahannya di Jakarta belum tentu berbanding lurus dengan Pilpres.

Kalah di Pilkada DKI tidak menurunkan pamor Hidayat Nur Wahid. Anggota Majelis Syuro DPP PKS ini berhasil memenangkan Pemira kandidat capres di internal PKS.

Hidayat mendapatkan suara tertinggi mengungguli nama-nama beken di partai berlambang bulan sabit tersebut, seperti Presiden PKS Anis Matta, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Walikota Depok Nur Mahmudi, dan Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring. Namun demikian, hasil Pemira PKS kurang mendapat sambutan positif di luar. Sebagian pengamat politik menilai Hidayat tidak memiliki daya jual. Hal itu dibuktikan dengan tidak masuk nama Hidayat di dalam l hasil survei sejumlah lembaga sebagai capres favorit rakyat.


Apa penilaian Hidayat terhadap pandangan tersebut? Apakah Hidayat memutuskan akan ikut pilpres? Berikut ini perbincangan Rakyat Merdeka dengan Hidayat, Senin (30/12).

Anda memenangi Pemira PKS. Namun, banyak kalangan meragukan popularitas dan elektabilitas Anda karena di Pilkada DKI saja kalah?
Hasil Pemira sebetulnya mementahkan anggapan tersebut. Di Pilkada DKI memang saya kalah, itu sejalan juga dengan hasil Pemira PKS, saya juga kalah di DKI Jakarta.

Saya hanya berada di peringkat kedua. Tapi secara nasional, perolehan suara saya unggul dibandingkan calon lainnya. Jadi ini adalah bukti kalau kalah di Jakarta tidak berarti tidak mampu bersaing di tingkat nasional. Begitupun sebaliknya, menang di Jakarta belum tentu pasti menang di nasional. Misalnya, Jokowi menang di Pilkada DKI, tetapi dia tidak bisa mengkatrol suara kader PDIP di pilkada lainnya. 

Contohnya Pilkada Jawa Barat, Rieke Dyah Pitaloka yang diusung PDIP kalah melawan Ahmad Heryawan yang merupakan kader PKS. Jadi tidak tepat kalau kalah di Jakarta kemudian dianggap tidak bisa berbuat apa-apa di tingkat nasional.

Bukankah DKI Jakarta selama ini dinilai sebagai barometer politik nasional?
Tidak bisa disimpulkan segampang itu. Karakteristik pemilih setiap daerah berbeda-beda. Tidak perlu jauh-jauh, karakteristik pemilih di Jakarta dengan di sebagian besar pulau Jawa saja sudah berbeda. Jakarta itu karakternya lebih kompleks. Contohnya PKS jeblok di Jakarta, tapi kami menang di Jawa Barat dan banyak pilkada lain. Kalau pun tidak menang, banyak kader PKS berada di urutan kedua.

Dari sisi jumlah populasi, di Jakarta hanya ada 10 juta penduduk. Sementara total di daerah lainnya, ada lebih dari 200 juta penduduk. Seandainya di pilpres suara kami di DKI kalah, tetapi di Jawa dan Sumatera perolehan suara kami menang, artinya  kami bisa menang di nasional.

Hasil lembaga survei menunjukkan suara PKS turun. Bagaimana penilaian Anda?

Ada fakta lain yang harus dilihat. Di dalam banyak pilkada, kami bisa menang. Perolehan suara kami jauh di atas perolehan suara partai Islam lainnya. Sekalipun tidak menang, kader kami berada di urutan dua atau tiga, ini artinya rakyat masih banyak yang mendukung kami.

PKS menggelar Pemira untuk apa? Apakah karena sudah bulat ingin mengajukan calon sendiri?
Kalau ditanya itu, kami sih yakin. Namanya juga berusaha. Tapi apakah pasti atau tidak mengusung capres, saya belum tahu, nanti Majelis Syuro yang akan memutuskan.

Jadi para kandidat yang unggul di Pemira belum tentu akan didorong menjadi capres?

Memang, para kandidat tidak secara otomatis diusung sebagai capres. Karena masih ada mekanisme yang harus dilalui, seperti uji publik, pembahasan di Majelis Syuro PKS dan tahapan lainnya. Kalaupun nanti sudah terpilih satu nama,  belum tentu juga diusung sebagai capres. Majelis Syuro yang akan memutuskan dengan mempertimbangkan hasil di Pemilihan Umum Legislatif (Pileg). Kalau PKS meraih dua digit, ada kemungkinan kami mengusung capres sendiri. Kalau tidak, ya mungkin mengajukan cawapres. Semua tergantung hasil pileg.

Jadi hasil Pemira PKS tidak terlalu bermanfaat ya...
Pemira digelar tujuannya melanjutkan tradisi positif kami. Sebelumnya kami membuat kebijakan agar Presiden Partai tidak rangkap jabatan. Pemira bagian tradisi positif, kami memberi kesempatan kepada para kader untuk memilih calon pemimpinnya sendiri.  Dari 22 nama yang diajukan, kader diminta memilih lima kandidat terkuat. Nantinya kelima kandidat ini akan diseleksi lagi, dan diputuskan oleh Majelis Syuro. Ini kan bagus dan demokratis. Dan perlu diingat, orang-orang yang terpilih di Pemira ini tidak mengajukan diri, mereka tidak berkampanye untuk dipilih. Artinya yang terpilih adalah orang-orang yang dinilai cakap dan berkinerja baik. Tapi di luar itu, kami harus realistis melihat hasil pileg.

Terkait dengan pileg. Belum lama ini Presiden PKS Anis Matta memperkenalkan istri keduannya kepada publik.  Apakah PKS tidak khawatir poligami akan memperburuk citra PKS di pemilu?
Saya tidak tahu soal itu. Saya kira  biarkan  nanti rakyat yang menilai akan berpengaruh atau tidak. Tapi saya rasa sih tidak. Indonesia sudah terbiasa memiliki pemimpin yang berpoligami. Bung Karno poligami. Wapresnya Bu Mega waktu itu, Pak Hamzah Haz juga poligami. Saya kira  poligami sudah menjadi bagian yang harus diterima dalam realita politik di Indonesia. ***

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

Mengenal Bupati Rejang Lebong M Fikri yang Baru Terjaring OTT

Selasa, 10 Maret 2026 | 06:15

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

Memalukan! Rismon Ajukan Restorative Justice

Kamis, 12 Maret 2026 | 02:07

UPDATE

Termasuk Yaqut dan Fadia Arafiq, KPK Fasilitasi Salat Id untuk 81 Tahanan

Jumat, 20 Maret 2026 | 16:18

Haedar Nashir Serukan Kedewasaan Sikapi Perbedaan Idulfitri

Jumat, 20 Maret 2026 | 16:08

Prabowo Malam Takbiran di Sumut, Salat Idulfitri di Aceh

Jumat, 20 Maret 2026 | 15:47

Idulfitri Momentum Perkuat Ketakwaan dan Kehidupan Bernegara

Jumat, 20 Maret 2026 | 15:01

Wacana WFH ASN Dinilai Tak Berdampak Signifikan pada Penghematan BBM

Jumat, 20 Maret 2026 | 14:40

F-35 AS Nyaris Jatuh, Diduga Dihantam Tembakan Iran

Jumat, 20 Maret 2026 | 14:37

Lebaran di Balik Jeruji, KPK Buka Layanan Kunjungan Keluarga Tahanan

Jumat, 20 Maret 2026 | 14:26

Prabowo Selamatkan Rp308 Triliun Uang Negara dari Koruptor

Jumat, 20 Maret 2026 | 13:45

Tips Kelola THR Anak untuk Investasi dan Edukasi Maksimal

Jumat, 20 Maret 2026 | 13:42

KPK Gelar Sholat Id untuk Tahanan di Masjid Gedung Merah Putih

Jumat, 20 Maret 2026 | 13:40

Selengkapnya